TUNDUK DAN TAAT
Bilangan 9–10

 

Kehadiran Tuhan yang menyertai kita memanggil kita bukan hanya untuk percaya, tetapi juga untuk tunduk dan taat dengan rela dan sukacita.

 

“Pada hari didirikannya Kemah Suci, awan menutupi Kemah Suci itu” (Bil. 9:15). Awan ini bukanlah awan biasa di langit. Inilah awan yang paling indah dan paling penting yang pernah ada—awan kehadiran Allah yang menaungi Kemah Suci. Awan ini menjadi tanda yang kelihatan bahwa TUHAN Allah Yang Mahakuasa, Pencipta dan Penguasa atas segala sesuatu, telah mengaruniakan kasih-Nya kepada umat ini dan memilih untuk diam di tengah-tengah mereka. Hal ini begitu luar biasa dan mengagumkan sehingga sulit bagi kita untuk sungguh-sungguh memahaminya.

 

Allah telah mengambil Israel menjadi milik-Nya. Ia telah mengikat perjanjian dengan mereka. Ia telah memberkati mereka dengan hukum-Nya. Ia telah menyediakan sistem korban supaya dosa-dosa mereka dapat diakui dan diampuni, dan supaya mereka disucikan serta dipulihkan. Dengan demikian, Tuhan di atas segala tuan menunjukkan bahwa Ia bukanlah Raja yang jauh dan tidak peduli terhadap umat-Nya. Sebaliknya, Ia memilih mereka agar Ia dapat tinggal dan menyertai umat-Nya. Karena itulah kemuliaan kehadiran-Nya menaungi Kemah Suci, menjadi pengingat yang terus-menerus akan anugerah kehadiran-Nya yang begitu ajaib.

 

Namun, awan di atas Kemah Suci bukan hanya tanda kehadiran, tetapi juga tanda tuntunan dari Allah. Allah yang diam bersama umat-Nya adalah Penuntun tertinggi bagi umat-Nya. Awan kehadiran Allah tidak bersifat diam. Awan itu bergerak, dan ketika awan itu bergerak, umat Allah dipanggil untuk bergerak dan mengikutinya. Mereka harus membongkar Kemah Suci dan tempat tinggal mereka, mengemasi barang-barang mereka, lalu berjalan mengikuti awan itu sesuai arah yang Tuhan tentukan.

 

Bangsa Israel dipanggil bukan hanya untuk menikmati kehadiran Tuhan, tetapi juga untuk tunduk pada tuntunan-Nya: “Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN mereka berangkat” (Bil. 9:23). Pergerakan awan itu menyatakan kehendak Tuhan. Dengan mengikuti awan, mereka sedang menaati firman Tuhan. Maka, menghormati hadirat Allah berarti hidup dalam ketaatan kepada perintah-Nya. Awan itu melambangkan bukan hanya anugerah kehadiran Allah, tetapi juga panggilan untuk tunduk kepada pemerintahan-Nya.

 

Demikian pula dengan hidup kita. Misteri besar kehidupan Kristen adalah ini: kita merayakan kasih karunia Allah yang begitu besar, sekaligus menerima tuntutan-Nya atas hidup kita untuk hidup taat setiap waktu. Kita bersyukur atas anugerah Yesus Kristus, yang bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memampukan hati kita yang lemah dan memberontak untuk rindu dan melakukan kehendak-Nya.

 

Kasih karunia tidak membuat kita hidup semaunya, melainkan memimpin kita untuk hidup taat dengan sukacita. Di dalam Injil, kita melihat bahwa Allah yang tinggal bersama kita adalah Allah yang memimpin kita. Dan di dalam Kristus, ketaatan bukan lagi beban, melainkan respons syukur atas kasih-Nya yang menyelamatkan.

 

Refleksi
Bacalah Ulangan 30:15–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9-10