KUASA YESUS DI TENGAH PENDERITAAN
MARKUS 15-16

 

Bahkan ketika Ia disiksa dan diejek, Yesus tetap menggunakan kuasa ilahi-Nya demi kita.

 

Sekilas, momen pada hari-hari terakhir kehidupan Yesus ini mungkin terlihat seperti sebuah kekalahan: “Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan.” (Mrk. 15:16–20).

 

Anda mungkin membaca bagian ini dan berpikir, "Di mana kuasa Yesus? Mengapa Ia tidak melakukan sesuatu? Mengapa Ia hanya berdiri di sana dan menerima semua perlakuan itu?” Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terlihat sebagai bukti bahwa Yesus bukanlah Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan. Mengapa Yesus tidak memanggil pasukan malaikat untuk menghadapi para penyiksa yang menghujat itu? Bagaimana mungkin Ia membiarkan mereka mengolok-olok diri-Nya sebagai Raja ilahi?

 

Namun, kita tahu bahwa momen ini sama sekali bukanlah momen kelemahan. Apa yang tampak seperti kekalahan sebenarnya bukanlah tanda kelemahan Yesus. Yesus bukanlah seseorang yang dengan lemah menyerah kepada manusia yang membenci dan ingin menyakiti-Nya. Sebaliknya, Yesus mengetahui dengan tepat apa yang sedang Ia lakukan. Ia tetap teguh menjalankan rencana penebusan yang telah ditetapkan oleh Bapa. Ia tidak membiarkan penderitaan, penghinaan, ataupun ejekan mengalihkan-Nya dari misi-Nya untuk menyelamatkan kita. 

 

Yesus datang bukan untuk mencari kenyamanan, penghormatan, atau kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Ia datang untuk memberikan diri-Nya bagi keselamatan umat-Nya. Jika Ia memilih untuk menyelamatkan diri-Nya dari penderitaan itu, bagaimana Ia akan menggenapi misi penebusan-Nya? Yesus rela menanggung penderitaan karena melalui kematian-Nya, Ia akan menyelamatkan orang-orang berdosa. Inilah yang telah dinubuatkan dalam Yesaya 53: Sang Hamba Tuhan yang menderita demi menanggung dosa banyak orang. 

 

Karena itu, kita perlu melihat peristiwa ini bukan hanya dari apa yang tampak di hadapan mata, tetapi juga dari rencana Allah yang sedang digenapi. Apa yang kita saksikan di sini bukanlah pertunjukan kekalahan dan kelemahan, melainkan kemenangan dan kekuatan yang membawa penebusan. Yesus tahu bahwa penderitaan-Nya merupakan bagian dari rencana yang telah ditetapkan oleh Bapa sebelum dunia dijadikan. Ia tahu kemuliaan kasih karunia yang akan dinyatakan melalui penderitaan-Nya.

 

Yesus menanggung penyiksaan dan ejekan itu demi orang-orang yang akan ditebus-Nya dari segala bangsa dan bahasa. Ia tidak mundur dari salib, sebab kasih-Nya kepada umat-Nya tidak akan gagal. Kuasa-Nya dinyatakan bukan dengan menghindari penderitaan, melainkan dengan menyelesaikan misi penebusan yang diberikan Bapa kepada-Nya. Inilah pengharapan kita. Keselamatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita untuk menyelamatkan diri sendiri, melainkan pada Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita. Melalui penderitaan dan kematian-Nya, kita menerima kasih karunia yang tidak layak kita peroleh. 

 

Lalu, bagaimana kebenaran ini membentuk hidup kita ketika menghadapi ejekan dan penderitaan? Sebagai anak-anak Allah, kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan atau hidup dalam ketakutan terhadap penilaian manusia. Kita dapat tetap setia kepada Tuhan karena hidup kita berada di dalam pemeliharaan-Nya. Dan kita dapat melakukan apa yang Yesus juga lakukan yaitu menyerahkan diri kita kepada Bapa surgawi, karena kita tahu bahwa pada akhirnya Dia akan menyatakan kebenaran dan membela kita.

 

Refleksi
Bacalah Filipi 2:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Markus 15-16