KETIKA TUHAN TIDAK LAGI MENJADI PUSAT
AMOS 1-5

 

Ketika suatu budaya berpaling dari Allah, budaya itu akan selalu jatuh ke dalam berbagai bentuk kerusakan moral.

 

Tidak sulit untuk mengatakan bahwa tiga kata yang paling penting dalam Alkitab adalah tiga kata pertama: “Pada mulanya, Allah…” (Kej. 1:1). Kata-kata ini menempatkan Allah pada tempat yang seharusnya: di awal dan di pusat dari segala sesuatu yang ada. Manusia diciptakan untuk hidup mengarah kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan seharusnya tunduk kepada keberadaan, kemuliaan, dan rencana-Nya. Karena itu, tujuan dan arah kehidupan kita (keluarga, pendidikan, seni, pemerintahan, politik, kesehatan, dan berbagai bidang kehidupan lainnya) seharusnya dibentuk oleh kehadiran dan kehendak Tuhan.

 

Manusia tidak pernah diciptakan untuk menjadi pusat kehidupan. Kehendak manusia bukanlah penentu terakhir tentang apa yang benar, baik, atau salah. Kenikmatan manusia bukanlah tujuan utama hidup. Akal dan logika kita juga tidak dirancang untuk berjalan tanpa Tuhan dan firman-Nya. Kreativitas manusia seharusnya tetap berada di bawah kehendak Sang Pencipta. Manusia tidak pernah diciptakan untuk memiliki kekuatan yang sepenuhnya bergantung pada dirinya sendiri atau hidup secara mandiri tanpa Allah. Segala sesuatu dalam kehidupan kita seharusnya dijalani dalam kesadaran akan kehadiran, kuasa, hikmat, dan otoritas Allah.

 

Jadi, ketika suatu budaya membelakangi Allah, menyangkal otoritas-Nya, dan mengikuti keinginan pribadi, hal-hal yang baik tidak akan dihasilkan. Sebaliknya, yang akan terjadi adalah kemerosotan secara bertahap menuju berbagai bentuk kerusakan dan kebobrokan moral.

 

Kerusakan ini perlahan masuk ke dalam setiap aspek kehidupan masyarakat: keluarga, pendidikan, seni, pemerintahan dan politik, kesehatan, serta berbagai struktur masyarakat lainnya. Kerusakan moral biasanya tidak terjadi sekaligus. Semuanya terjadi sedikit demi sedikit. Tetapi jika Tuhan terus-menerus disingkirkan dari pusat kehidupan, masyarakat pada akhirnya dapat jatuh ke dalam kekacauan moral. 

 

Sayangnya, kita dapat melihat kemerosotan moral yang terus berkembang ini dalam kehidupan umat Allah di Perjanjian Lama. Meskipun menyedihkan untuk dibaca, kisah ini dipelihara bagi kita sebagai sebuah peringatan dari Allah yang sangat mengasihi anak-anak-Nya. Kekacauan moral ini digambarkan dengan jelas dalam kitab Amos: “Beginilah firman TUHAN: ‘Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut; mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku; mereka merebahkan diri di samping setiap mezbah di atas pakaian gadaian orang, dan minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka. (Am. 2:6-8).

 

Coba perhatikan apa yang sedang Amos gambarkan. Salah satu tanda yang jelas dari kemerosotan moral adalah ketidakadilan sosial. Dalam bagian ini, keadilan diperlakukan seperti barang dagangan yang bisa dibeli. Sementara kondisi orang-orang miskin yang sedang berada dalam keadaan sangat sulit dibiarkan atau diabaikan. Dan jangan lupa, Amos tidak sedang menggambarkan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia sedang menggambarkan umat Allah.

 

Ini menjadi peringatan yang serius bagi kita. Kita bisa tetap terlihat religius, tetapi perlahan-lahan menjauh dari Tuhan ketika Dia tidak lagi menjadi pusat kehidupan kita. Ketika Tuhan tidak lagi menjadi pusat, kita akan mulai menempatkan keinginan, kenyamanan, keuntungan, kekuasaan, dan kepentingan diri sendiri sebagai pusat. Dan ketika itu terjadi, kerusakan tidak hanya memengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga cara kita memperlakukan orang lain.

 

Karena itu, kita perlu terus berdoa agar Tuhan menjaga hati kita. Mintalah kasih karunia Tuhan untuk menjaga dan memelihara kita supaya Dia tetap menjadi pusat dari segala sesuatu yang kita inginkan dan lakukan. Bukan diri kita yang menjadi pusat. Bukan keinginan kita yang menjadi penentu. Tuhanlah pusat kehidupan kita.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 2:4-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Amos 1-5