RENCANA ALLAH TIDAK DAPAT DIGAGALKAN
1 RAJA-RAJA 15–17
Tidak ada apa pun, baik di bumi maupun di langit, yang bisa menghentikan rencana dan tujuan Allah.
Setiap kita pasti pernah atau sedang ada dalam masa hidup yang terasa penuh, produktif, berpengaruh, bahkan mungkin menyenangkan dalam pekerjaan. Banyak kesempatan berbicara, perjalanan, dan rencana besar yang dikerjakan. Komitmen dan semangat kita begitu kuat. Namun, pada dasarnya kita tetap terbatas. Hanya dengan sedikit gangguan fisik kesehatan, semua rencana yang tampaknya tidak terhentikan bisa berhenti seketika. Dari situ terlihat kenyataan bahwa manusia tidak berdaulat dan memiliki batas.
Puji Tuhan, Allah tidak seperti kita. Tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak-Nya, tidak ada yang dapat melawan kuasa-Nya, dan tidak ada yang bisa menghentikan karya penebusan-Nya yang agung. Pengharapan dan kepastian rohani setiap orang percaya berdiri di atas fakta bahwa Tuhan kita tidak dapat dihentikan. Pemerintahan-Nya tetap berkuasa.
Kebenaran ini dinyatakan dengan jelas dan menguatkan dalam 1 Raja-Raja 15:1-4: “Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam bin Nebat menjadi rajalah Abiam atas Yehuda. Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Maakha, anak Abisalom. Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya. Tetapi oleh karena Daud maka TUHAN, Allahnya, memberikan keturunan kepadanya di Yerusalem dengan mengangkat anaknya menggantikan dia dan dengan membiarkan Yerusalem berdiri.”
Tuhan, Pencipta langit dan bumi, telah menetapkan rencana penebusan sejak sebelum dunia dijadikan, dan Ia tidak akan berpaling dari rencana itu, apa pun yang terjadi. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Tuhan tetap mempertahankan takhta Abiam dan keturunannya di Yerusalem, bukan karena Abiam adalah raja yang takut akan Tuhan, melainkan karena Allah setia pada janji-Nya dengan Daud dan ia tidak membiarkan apa pun menghalangi rencana penebusan-Nya yang besar. Sebab dari suku Yehuda akan lahir Raja segala raja, yang takhta-Nya tidak akan berkesudahan.
Jangan salah mengerti, Allah tidak mengabaikan dosa Abiam seolah-olah itu bukan apa-apa. Dosa Abiam tetap dinyatakan dengan jelas dalam bagian ini. Namun, Allah tidak mau membatalkan rencana penebusan-Nya dan janji perjanjian yang telah Ia buat kepada Daud. Allah tidak menutup mata terhadap dosa Abiam, tetapi Ia juga tidak membiarkan dosa manusia menggagalkan rencana kasih karunia-Nya.
Di sinilah Injil menjadi sangat jelas. Jika dosa manusia bisa menggagalkan rencana Allah, maka tidak akan ada harapan bagi siapa pun. Namun sebaliknya, harapan justru ada karena Allah setia pada perjanjian-Nya, bahkan ketika manusia tidak setia. Yesus Kristus adalah penggenapan janji itu—Raja yang datang dari garis Daud, yang sempurna dan tidak berdosa. Dia menggenapi apa yang manusia gagal lakukan. Di dalam Dia, janji Allah tidak pernah gagal.
Ketika manusia tidak setia, Allah tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri. Ketika dunia mengecewakan, rencana Allah tetap teguh dan tidak tergoyahkan. Karena itu, menaruh harapan kepada-Nya adalah satu-satunya harapan kita yang aman. Di dalam Kristus, harapan tidak pernah sia-sia, karena Allah selalu menggenapi setiap janji-Nya.
Refleksi
Bacalah Amsal 19:21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 15-17