NYANYIAN HATI KARENA ANUGERAH-NYA
LUKAS 1
Hari ini kita bernyanyi dan kita akan terus bernyanyi sepanjang kekekalan tentang kasih karunia Yesus.
Allah menciptakan manusia dengan kemampuan dan kerinduan untuk bernyanyi. Jika kita memperhatikan kehidupan sehari-hari, kita akan menyadari bahwa manusia bernyanyi dalam berbagai keadaan. Kita menyanyikan lagu rohani, lagu tentang politik, cinta, protes, kebahagiaan, kedukaan, penderitaan, dan sukacita. Anak-anak kecil menyanyikan lagu yang mereka pelajari di sekolah minggu, sementara orang-orang lanjut usia menyanyikan lagu-lagu yang mereka kenal sejak dahulu.
Menciptakan dan menyanyikan lagu adalah sesuatu yang sangat melekat pada manusia. Lagu-lagu kita merupakan ungkapan dari emosi dan nilai-nilai yang ada di dalam hati kita. Lagu-lagu kita dapat mengungkapkan lebih banyak tentang diri kita daripada yang mungkin kita sadari.
Karena itu, ketika kita membaca dan mempelajari Alkitab, kita perlu menyediakan waktu untuk memperhatikan nyanyian-nyanyian yang ada di dalamnya. Nyanyian-nyanyian tersebut diberikan untuk mengarahkan hati kita kepada Tuhan, mengajarkan jalan-jalan-Nya, membangkitkan sukacita dalam diri kita, dan memberikan kata-kata yang dapat kita gunakan untuk menyembah-Nya.
Salah satu nyanyian yang sangat indah dalam Alkitab adalah nyanyian Maria. Setelah malaikat memberitahukan bahwa ia akan melahirkan Mesias yang telah dijanjikan, Maria mengunjungi Elisabet, saudara sepupunya. Dalam perjumpaan itulah Maria menyampaikan pujian kepada Allah: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”. (Luk. 1:46-47). Dalam Lukas 1:48–55, Maria melanjutkan pujiannya dengan mengakui bahwa Allah telah memperhatikan keadaannya sebagai seorang hamba yang rendah. Allah Yang Mahakuasa telah melakukan perkara-perkara besar baginya. Nama Allah kudus, dan rahmat-Nya tetap ada dari generasi ke generasi bagi mereka yang takut akan Dia.
Maria juga memuji Allah yang menyatakan kuasa-Nya dengan merendahkan orang-orang yang sombong dan meninggikan mereka yang rendah. Allah memberikan yang baik kepada orang yang lapar, sementara orang kaya disuruh pergi dengan tangan hampa. Ia menolong Israel, umat-Nya, karena Ia tidak melupakan belas kasihan dan janji yang telah diberikan-Nya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya.
Perhatikan kerendahan hati Maria. Ia menyadari bahwa dirinya tidak melakukan apa pun untuk memperoleh kehormatan menjadi ibu Sang Mesias. Ia hanyalah seorang hamba yang rendah, tetapi Allah berkenan menunjukkan kasih karunia-Nya kepadanya. Kemudian perhatikan bagaimana ia berbicara tentang Tuhannya. Tuhan memiliki otoritas dan kekuatan yang besar, tetapi pada saat yang sama hati-Nya penuh belas kasihan. Ia menghadapi dosa dan kesombongan manusia, tetapi juga memperhatikan kebutuhan umat-Nya. Ia mengingat dan setia dalam menepati janji-janji perjanjian-Nya. Janji-janji tersebut akan menemukan penggenapannya yang sempurna melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Sang Anak yang ada di dalam kandungan Maria. Kuduslah nama-Nya.
Lagu Injil yang dinyanyikan Maria telah dipelihara bagi kita supaya ungkapan sukacita dan hati yang tertuju kepada Allah ini juga menjadi lagu dalam hati kita. Kiranya ungkapan sukacita dan penyembahan yang lahir dari hati Maria juga menjadi ungkapan hati kita. Sebab ketika kita sungguh mengenal anugerah Allah di dalam Kristus, hati kita memiliki alasan yang tidak akan pernah habis untuk memuji-Nya.
Refleksi
Bacalah 2 Samuel 6:11-23 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 1