BUKAN USAHA MANUSIA
1 RAJA-RAJA 18–20

 

Perbedaan antara agama yang benar dan yang palsu sebenarnya sangat jelas. Dalam agama yang palsu, manusia hidup dalam ketakutan dan berusaha mati-matian untuk mendapatkan penerimaan dari allah mereka. Tetapi dalam iman yang benar, justru Allah yang terlebih dahulu datang mendekat, dan oleh kasih karunia-Nya Ia menerima orang-orang yang sebenarnya tidak layak.

 

Di dalam Alkitab, ada ratusan kali kita menemukan ungkapan “jangan takut.” Ini menunjukkan pesan yang indah dan menguatkan bahwa hidup beriman bukanlah hidup yang dipenuhi ketakutan, melainkan hidup yang ditopang oleh kasih karunia Allah yang melimpah.

 

Karena itu, kita tidak perlu menjalani hari dengan rasa takut akan murka Allah, atau sibuk memikirkan apa yang harus kita lakukan supaya Ia tidak menghukum kita. Hidup bersama Tuhan bukan tentang berusaha lebih keras atau melakukan lebih banyak untuk membuktikan diri. Alkitab bukan cerita tentang manusia yang harus memperbaiki diri supaya bisa diterima. Justru sebaliknya, Alkitab menceritakan bukanlah tentang “berusaha lebih keras,” tetapi tentang menerima anugerah yang Allah berikan.

 

Tema utama Alkitab bukanlah penghukuman ilahi, melainkan anugerah ilahi. Ketidaklayakan manusia seharusnya tidak membuat bersembunyi dalam rasa bersalah dan malu, tetapi justru menyadarkan betapa manusia sangat membutuhkan anugerah sebagai satu-satunya harapan. Perbedaan antara usaha manusia dan penerimaan oleh anugerah adalah garis pemisah antara agama yang salah dan iman yang benar.

 

Kebenaran ini terlihat dengan sangat jelas dalam kisah pertarungan antara para nabi Baal dan nabi Elia dalam 1 Raja-Raja 18:36-37: “Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.’"

 

Para nabi Baal berusaha dengan segala cara untuk menarik perhatian allah mereka. Mereka berteriak, menari, bahkan sampai melukai diri sendiri. Namun semua usaha itu sia-sia. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Tidak ada damai, hanya kelelahan dan kekecewaan. Itu adalah gambaran dari agama yang dibangun di atas usaha manusia: penuh ketakutan, kelelahan, dan tanpa kepastian.

 

Sebaliknya, Elia tidak mencoba memaksa Allah untuk menjawab. Ia tidak berkata, “Bukankah aku sudah cukup melakukan sesuatu?” Elia tidak perlu berteriak atau menyakiti dirinya. Ia hanya datang dengan rendah hati dan percaya. Ia meminta Tuhan menjawab, supaya semua orang tahu bahwa Dialah Allah yang benar. Dan di situlah letak keindahannya: ia beristirahat dalam kasih karunia Tuhan.

 

Allah memanggil umat-Nya bukan kepada hidup yang dikuasai ketakutan, tetapi kepada perhentian dalam iman. Perhentian itu hanya mungkin karena Allah adalah Allah yang penuh anugerah. Injil menggenapi kebenaran ini dengan sempurna. Dalam Yesus Kristus, Allah tidak menunggu manusia mencapai-Nya, tetapi Dia sendiri datang mencari dan menyelamatkan. Di kayu salib, Yesus menanggung hukuman yang seharusnya manusia tanggung, sehingga manusia tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan akan penolakan Allah.

 

Di dalam Kristus, penerimaan tidak diperoleh—tetapi diberikan. Di dalam Kristus, manusia tidak perlu berjuang untuk cukup, karena Dia sudah cukup. Karena itu, berhentilah mengandalkan usaha diri untuk mendapatkan kasih Allah. Datanglah dengan iman, dan beristirahatlah dalam anugerah-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Roma 5:6-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 18-20