YESUS BERDIRI DI TEMPAT KITA
Bilangan 16–17

 

Yesus berdiri sebagai pengantara antara kita dan Allah. Ia menanggung hukuman Allah atas diri-Nya sendiri, supaya hukuman itu tidak menimpa kita. Sungguh anugerah yang luar biasa!

 

Dalam Bilangan 16, kita berada pada momen yang mengejutkan dan menyedihkan dalam sejarah hubungan Allah dengan umat-Nya. Dalam murka yang kudus, Allah menjatuhkan hukuman terhadap umat-Nya yang memberontak dan bersungut-sungut. Allah tidak akan mengkompromikan standar-Nya yang tinggi dan kudus hanya agar bisa bersekutu dengan umat-Nya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menantang otoritas-Nya, kesetiaan-Nya, atau pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Pada momen ini, kita diingatkan kembali bahwa upah dosa selalu sama: maut (Rm. 6:23).

 

Namun, bagian ini bukan hanya tentang penghukuman yang menyedihkan; ini juga merupakan gambaran indah tentang penyediaan anugerah penebusan Allah. Meskipun 14.700 orang Israel tewas, sebuah tindakan "anugerah perantaraan" menyelamatkan bangsa itu agar tidak musnah seluruhnya.

 

Harun adalah alat anugerah itu. Ia benar-benar berlari dan berdiri di antara mayat-mayat orang mati dan mereka yang masih hidup. Dengan perbaraan yang penuh dengan ukupan (kemenyan), ia mengadakan pendamaian bagi umat Allah. Seharusnya, seorang imam tidak boleh mendekati mayat karena takut akan kecemaran yang membuat mereka najis dan tidak bisa menjalankan tugas keimaman. Namun Harun, sebagai alat anugerah pendamaian, berdiri di antara yang hidup dan yang mati, menyelamatkan umat Allah dari murka-Nya yang mematikan namun adil.

 

Mustahil bagi kita untuk melihat Harun di sini tanpa melihat Yesus. Yesus adalah Harun yang jauh lebih besar—Sang Juruselamat yang datang untuk berdiri di antara yang hidup dan yang mati. Ia bukan sekadar mengadakan pendamaian bagi dosa; Ia adalah korban pendamaian itu sendiri. Ia bukan hanya Imam Besar Agung; Ia adalah Anak Domba yang dikorbankan. Ia tidak hanya berdiri di antara yang hidup dan yang mati; Ia mati supaya semua orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup. Setiap tindakan pendamaian dalam Perjanjian Lama adalah penunjuk yang mengarah kepada Yesus. Perjanjian Lama bukanlah sekadar kumpulan cerita moral, melainkan satu kisah besar dengan banyak pasal: kisah tentang tragedi dosa dan rencana Allah yang terus digenapkan untuk menyediakan korban dosa sekali untuk selamanya, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

 

Kisah dalam Bilangan 16 menghadapkan kita pada kenyataan bahwa Allah menganggap serius dosa, dan kita pun harus demikian. Jika dosa tidak serius, maka tidak perlu ada Juruselamat. Namun karena dosa itu serius, seluruh umat manusia membutuhkan kerelaan Kristus untuk berdiri di antara yang hidup dan yang mati demi mengadakan pendamaian. Tidak ada satu hari pun di mana kita bebas dari kebutuhan akan anugerah pendamaian-Nya.

 

Kiranya melalui perenungan ini, kita semakin bersyukur, rendah hati, dan hidup dalam kekaguman akan Injil: Yesus telah berdiri di tempat kita, supaya kita mendapat tempat dan hidup di hadapan Allah.

 

Refleksi
Bacalah Yesaya 52:13–53:12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 16-17