MATA HATI YANG BUTA
Bilangan 14–15

 

Kita membutuhkan anugerah untuk membuka mata kita yang sering kali buta agar dapat melihat betapa besarnya kemuliaan itu.

 

Bayangkan kita ada di sebuah museum yang memajang sebuah lukisan agung tapi untuk waktu yang terbatas. Ketika kita tiba di museum dan menemukan galeri tempat lukisan itu dipajang, begitu banyak orang telah berkumpul sehingga kita bahkan tidak dapat masuk. Kita mungkin berjinjit untuk mencoba melihat sekilas dari ambang pintu, tetapi yang terlihat hanyalah sudut kecil dari mahakarya itu. Jika saat itu kita diminta menggambarkan lukisan yang begitu mulia, kita hanya mampu memberikan gambaran yang jauh dari kata “agung”. Masalahnya bukan karena lukisan itu tidak indah, melainkan karena kita tidak memiliki sudut pandang yang tepat untuk sungguh-sungguh melihat, mengagumi, dan menikmati keagungan lukisan itu. Gambaran inilah yang menolong kita untuk memahami kitab Bilangan.

 

Salah satu alasan kitab Bilangan ada dalam Alkitab adalah untuk menyatakan betapa besar kemuliaan Allah, sekaligus menunjukkan bagaimana Allah menyatakan kasih dan pemeliharaan-Nya bagi umat-Nya. Dalam kitab ini, kemuliaan Allah bersinar seperti bintang-bintang di langit malam. Kita melihat kemuliaan kehadiran-Nya, hikmat-Nya, kuasa-Nya, kasih-Nya yang sabar, tuntunan-Nya, anugerah pengampunan-Nya, disiplin-Nya, perlindungan-Nya, pemeliharaan-Nya, ketelitian-Nya dalam memperhatikan setiap anak-Nya, serta kesetiaan-Nya dalam menggenapi janji-janji-Nya.

 

Namun, ketika umat-Nya melihat potret kemuliaan ini, mereka justru tidak melihat kemuliaan itu. Ini adalah gambaran menyedihkan dari kebutaan rohani. Dan sesungguhnya, kondisi ini juga mencerminkan keadaan kita. Karena itu, kita semua membutuhkan seorang Juruselamat yang berkuasa membuka mata hati yang buta, supaya kita dapat melihat anugerah dan kemuliaan Allah yang sesungguhnya ada di sekeliling kita.

 

Tepat saat Allah hendak membawa umat-Nya masuk ke tanah yang telah dijanjikan-Nya sejak lama, saat di mana kemuliaan-Nya seharusnya bersinar paling terang, umat-Nya justru merespons dengan keluhan: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan istri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?" Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir." (Bil. 14:2–4).

 

Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bil. 14:4). Kepanikan dalam menghadapi tantangan membuat orang Israel buta terhadap kemuliaan kuasa Allah yang Mahakuasa, yang sanggup memberikan pertolongan-Nya dan menyerahkan tanah perjanjian itu ke dalam tangan mereka.

 

Kisah ini mengajukan pertanyaan penting bagi kita: Apa yang membutakan mata kita sehingga kita tidak melihat Allah yang mulia dan anugerah yang Dia sediakan setiap hari melalui Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus? Dalam Injil, kita melihat bahwa Yesus datang untuk membuka mata orang buta—bukan hanya secara fisik, tetapi terutama secara rohani. Di dalam Dia, kita melihat kemuliaan Allah yang sejati. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, kita menerima anugerah untuk percaya, berharap, dan melangkah maju. Kiranya Roh Kudus menolong kita melihat kemuliaan Allah dengan mata iman, agar kita tidak hidup dalam ketakutan, melainkan dalam keyakinan akan janji-Nya yang setia.

 

Refleksi
Bacalah  Yesaya 6:1–7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 14-15