HIDUP YANG TERASA HAMPA
PENGKHOTBAH 1-4

 

Hidup akan terasa hampa ketika kita mencoba menjalaninya tanpa Allah.

 

Kitab Pengkhotbah dibuka dengan cara yang berbeda dari kitab-kitab Alkitab lainnya. Tidak ada pengantar atau kata-kata yang memberi semangat. Sebaliknya, kita langsung diperhadapkan pada sebuah kenyataan yang terasa berat: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pkh. 1:2-9).

 

Melalui gambaran ini, Pengkhotbah sedang mengungkapkan pergumulan yang juga sering kita alami. Di tengah kesibukan, pekerjaan, pencapaian, dan rutinitas, kita mungkin pernah bertanya, "Apakah hanya ini arti hidup? Mengapa setelah memperoleh sesuatu, hati tetap merasa kurang?" Alkitab tidak menutupi pergumulan seperti ini. Justru, firman Tuhan mengajak kita untuk datang kepada-Nya dengan pertanyaan-pertanyaan yang jujur. Allah tidak menolak orang yang bergumul mencari makna hidup.

 

Namun, tujuan Pengkhotbah bukanlah membuat kita putus asa. Ia ingin menunjukkan bahwa selama kita mencari arti hidup hanya dari apa yang ada "di bawah matahari", yaitu segala sesuatu yang ada di dunia ini, kita tidak akan pernah menemukan kepuasan yang sejati. Tidak ada pekerjaan, harta, hubungan, pencapaian, atau kesenangan dunia yang mampu memenuhi kerinduan terdalam hati manusia. Semua itu adalah anugerah Tuhan, tetapi tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan Tuhan sendiri. Ketika kita berharap dunia memberikan identitas, tujuan, dan kepuasan yang hanya dapat diberikan oleh Allah, pada akhirnya kita akan dikecewakan.

 

Di sinilah Injil membawa pengharapan. Apa yang tidak pernah dapat diberikan dunia, Allah sendiri berikan melalui Kristus. Yesus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa kita, tetapi juga untuk memulihkan tujuan hidup kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus membawa kita keluar dari kehidupan yang hanya berpusat pada dunia menuju kehidupan yang berpusat pada Allah. Di dalam Kristus, hidup tidak lagi dijalani hanya "di bawah matahari," tetapi di hadapan Allah yang hidup. Di dalam Dia, kita menerima identitas sebagai anak-anak Allah, tujuan untuk memuliakan-Nya, dan pengharapan yang melampaui dunia yang sementara ini.

 

Karena kasih karunia, kita tidak lagi harus mencari makna hidup dari hal-hal yang fana. Allah sendiri telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus dan mengangkat kita menjadi milik-Nya. Ketika mengenal Kristus, segala sesuatu berubah. Hidup yang dahulu terasa hampa kini memiliki makna yang kekal, karena Sang Pencipta menjadi pusat dan tujuan hidup kita.

 

Hari ini, jangan mencari kepuasan terakhir pada hal-hal "di bawah matahari." Pandanglah kepada Kristus. Hanya di dalam Dia, hati yang letih menemukan kepuasan, hidup yang kosong menemukan makna, dan jiwa yang haus menemukan sukacita yang kekal.

 

Refleksi
Bacalah Filipi 3:1–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 1-4