RASA CUKUP DI DALAM ALLAH
PENGKHOTBAH 5-8
Rasa syukur dan sukacita tidak bertumbuh dari memiliki lebih banyak, tetapi dari hati yang belajar merasa cukup di dalam Allah.
Banyak orang telah menerima begitu banyak berkat dari Tuhan, tetapi tetap mudah mengeluh. Jika jujur, kita pun sering demikian. Mengeluh seolah menjadi bahasa yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengeluhkan cuaca, kemacetan, pekerjaan, keadaan ekonomi, keluarga, pelayanan, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Mengapa demikian? Karena dosa membuat manusia menempatkan diri sendiri sebagai pusat kehidupan. Akibatnya, segala sesuatu diukur berdasarkan keinginan, kebutuhan, dan kenyamanan pribadi. Selalu ada alasan untuk merasa tidak puas. Hari ini makanan kurang enak, besok pekerjaan terlalu berat, lusa keadaan tidak sesuai harapan. Hati yang dikuasai dosa tidak pernah merasa cukup.
Kehidupan yang dipenuhi keluhan adalah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Sedikit demi sedikit, keluhan merampas sukacita, mematikan rasa syukur, dan membuat hati sulit menikmati kebaikan Tuhan. Allah tidak menciptakan kita untuk menjadi orang yang terus-menerus mengeluh, tetapi untuk menikmati Dia dengan penuh ucapan syukur.
Perhatikan apa yang dikatakan Pengkhotbah: “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya. Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah. Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.“ (Pkh. 5:18–20).
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kepuasan hidup bukanlah hasil dari kehidupan yang mudah atau kekayaan yang melimpah. Orang kaya dapat mengeluh, orang miskin pun dapat mengeluh. Keadaan hidup bukanlah penentu utama kepuasan. Yang menentukan adalah hati yang menerima hidup sebagai pemberian Allah. Bekerja adalah anugerah Allah. Makanan di meja adalah anugerah Allah. Keluarga, kesehatan, kesempatan melayani, bahkan napas yang kita hirup hari ini adalah pemberian-Nya. Ketika hati melihat segala sesuatu sebagai kasih karunia, keluhan perlahan berubah menjadi ucapan syukur.
Namun, Injil menunjukkan bahwa masalah terdalam kita bukan sekadar kebiasaan mengeluh. Akar ketidakpuasan adalah hati yang telah terpisah dari Allah karena dosa. Selama hati mencari kepuasan di luar Tuhan, tidak ada pencapaian, harta, hubungan, atau pengalaman yang benar-benar dapat memuaskannya.
Kabar baiknya, Yesus Kristus datang untuk memberikan kepuasan yang dunia tidak pernah dapat berikan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus mendamaikan kita dengan Allah, sumber segala sukacita. Di dalam Dia, kita menerima harta yang tidak dapat hilang, pengharapan yang tidak dapat digoncangkan, dan kasih yang tidak pernah berakhir. Karena memiliki Kristus, kita memiliki alasan untuk bersyukur dalam segala keadaan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dapat berkata bahwa ia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena Kristus menjadi kecukupan hidupnya (bdk. Flp. 4:11–13).
Hari ini, jika hati Anda dipenuhi dengan keluhan, datanglah kepada Kristus. Akuilah kelemahan Anda di hadapan-Nya dan mintalah Roh Kudus memperbarui hatimu. Ketika Kristus menjadi harta yang terutama, Anda akan belajar menikmati setiap pemberian Allah dengan penuh rasa syukur. Sebab sukacita sejati tidak lahir dari memiliki lebih banyak, melainkan dari memiliki Kristus yang selalu cukup.
Refleksi
Bacalah Filipi 4:10-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 5-8