TIDAK ADA SIKAP NETRAL TERHADAP YESUS
LUKAS 2-3

 

Nasib kekal setiap orang ditentukan oleh bagaimana ia merespons Kristus: menerima atau menolak-Nya. Tidak ada sikap netral terhadap-Nya.

 

Ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus yang masih kecil ke Bait Allah, mereka tidak tahu bahwa Simeon, seorang yang benar di hadapan Allah, sedang menunggu di sana. Roh Kudus telah memberitahukan kepada Simeon bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias yang dijanjikan Tuhan. Simeon kemudian menyambut Yesus dan menggendong-Nya. Sungguh, sebuah peristiwa yang luar biasa. Bayangkan jika Allah memilih Anda untuk menggendong Sang Mesias yang masih kecil dalam pelukanmu!

 

Sambil menggendong Yesus, Simeon memuji Allah dan berkata: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Luk. 2:29–32).

 

Setelah Simeon menyampaikan pujian dan nubuatnya, ia berpaling kepada Maria dan berkata: “… Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk. 2:34–35).

 

Simeon juga menyampaikan bahwa pedang akan menembus jiwa Maria sendiri, dan bahwa melalui Yesus, pikiran hati banyak orang akan dinyatakan. Tentunya, perkataan yang keras dan membingungkan ini tidak mudah didengar oleh Maria yang masih muda sebagai ibu dari Sang Mesias. Namun, Simeon sedang menyampaikan sebuah kebenaran yang tidak dapat dihindari tentang siapa Yesus, pribadi-Nya, dan karya-Nya. Ketika kebenaran tentang kelahiran Kristus dinyatakan kepada Anda, ketika Allah menyatakan siapa Dia, ketika ada kesaksian tentang mukjizat dan pelayanan-Nya, serta ketika Yesus sendiri memberikan kesaksian tentang diri-Nya, Anda tidak dapat bersikap netral terhadap Yesus.

 

Secara rohani, respons kita terhadap Yesus akan membawa kita kepada kehidupan atau kebinasaan. Tidak cukup jika kita hanya menganggap-Nya sebagai nabi yang baik atau guru yang bijaksana. Kita dapat datang kepada-Nya dalam iman, mengakui kebutuhan kita akan keselamatan, dan bersujud menyembah-Nya. Atau sebaliknya, kita dapat menolak-Nya, meremehkan-Nya, dan memilih hidup seolah-olah kita tidak membutuhkan-Nya. Kita dapat mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan anugerah-Nya, atau tetap bersikeras mengandalkan diri sendiri dan berpaling dari Dia.

 

Garis pemisah terbesar dalam kehidupan manusia bukanlah perbedaan politik, ekonomi, status sosial, atau suku bangsa. Garis pemisah yang sesungguhnya adalah bagaimana manusia merespons Yesus Kristus. 

 

Ketika Simeon berkata kepada Maria bahwa pedang akan menembus jiwanya, ia sedang menubuatkan penderitaan yang kelak akan dialami Maria ketika menyaksikan Anak yang dikasihinya disalibkan di Kalvari. Betapa besar penderitaan seorang ibu ketika melihat tombak menikam lambung Anaknya sendiri. Namun, salib bukan sekadar kisah penderitaan seorang ibu dan Anaknya. Di sanalah Sang Juruselamat menyerahkan diri-Nya untuk menanggung dosa manusia dan membuka jalan keselamatan bagi orang-orang berdosa. 

 

Ketika Simeon mengatakan kepada Maria bahwa sebuah pedang akan menembus jiwanya, ia tentu sedang berbicara tentang Kalvari, ketika Maria akan menyaksikan pedang menembus sisi tubuh Mesias, Anak-Nya. Sungguh, penderitaan yang begitu besar menanti ibu muda ini.

 

Karena itu, salib Kristus hanya memiliki dua makna bagi setiap manusia. Salib itu menjadi satu-satunya pengharapan kita, baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kekekalan, atau menjadi gambaran tentang penghakiman dan kematian kekal bagi mereka yang terus menolak Kristus dan merasa tidak membutuhkan-Nya. Tidak ada sikap netral di hadapan salib Kristus.

 

Jadi, hari ini, bagaimana Anda akan merespons Yesus? Apakah Anda akan datang kepada-Nya dengan iman, menyembah-Nya dengan penuh syukur atas anugerah keselamatan yang telah diberikan-Nya? Ataukah Anda akan tetap mengandalkan dirimu sendiri, menjalani kehidupan menurut kehendakmu, dan berpaling dari-Nya?

 

Refleksi
Bacalah Yohanes 1:1-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 2-3