FIRMAN TUHAN MEMBENTUK HIDUP KITA
OBAJA 1-YUNUS 4
Sering kali ada kesenjangan yang jelas dan berbahaya antara teologi yang kita yakini secara formal dan teologi yang kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Anda sudah mengenal banyak kisah yang Allah pelihara dan berikan kepada kita melalui Alkitab, maka Anda adalah orang yang diberkati. Itu berarti Allah telah menempatkan Anda di tempat di mana Anda dapat mengenal dan diajar oleh firman-Nya. Oleh anugerah-Nya, Anda telah mendengar tentang karya-Nya bagi umat-Nya berulang kali, sampai-sampai Anda mengenal orang-orang dan tempat-tempat dalam Alkitab tanpa harus membuka Alkitab terlebih dahulu. Jutaan orang di seluruh dunia bahkan belum pernah memegang Alkitab, apalagi mengenalnya sedemikian dalam sampai kisah-kisahnya tertanam dalam ingatan mereka.
Namun, ada masalah yang bisa muncul ketika kita sudah terlalu familier dengan sesuatu. Ketika kita sudah terlalu terbiasa, kita bisa menjadi malas dan berhenti memperhatikan serta mendengarkan. Kita bisa begitu sering mendengar firman Tuhan sampai kita berhenti membiarkan firman itu menegur, menghibur, dan mengubah kita.
Kisah nabi Yunus adalah salah satu kisah yang paling dikenal dalam seluruh Alkitab. Mungkin sejak kecil kita sudah mendengar tentang Yunus dan ikan besar. Karena kisah ini sangat familier, kita bisa dengan mudah melewatkan pelajaran rohani yang sebenarnya sangat penting. Karena itu, mari kita melihat satu hal yang mungkin selama ini kita lewatkan.
Yunus berkata kepada Tuhan bahwa dia tidak mau pergi ke Niniwe untuk memberitakan penghakiman. Lalu dia naik kapal untuk pergi ke arah yang berlawanan dari tempat Tuhan mengutusnya. Tuhan kemudian mendatangkan badai besar karena Yunus tidak menaati-Nya.
Para pelaut di kapal itu berusaha mencari tahu penyebab badai tersebut dan mereka menemukan Yunus sedang tidur. Mereka membangunkannya, membuang undi, dan undian itu jatuh kepada Yunus. Mereka kemudian bertanya siapa dirinya. Yunus menjawab, “Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.” (Yun. 1:9).
Perhatikan pengakuan Yunus. Yunus membuat pengakuan iman yang benar secara formal dan sesuai dengan keyakinan agamanya, tetapi pengakuan itu sama sekali tidak menggambarkan teologi yang ia jalankan dalam kehidupannya. Ia berkata bahwa ia takut akan TUHAN, tetapi masalahnya adalah kehidupan Yunus tidak menunjukkan apa yang dia katakan dan percayai.
Yunus mengatakan bahwa dia takut kepada Tuhan, tetapi dia justru sedang melarikan diri dari perintah Tuhan. Inilah yang disebut sebagai perbedaan antara “teologi formal” dan “teologi fungsional.” Teologi formal adalah apa yang kita katakan bahwa kita percaya tentang Tuhan. Teologi fungsional adalah apa yang sebenarnya kita percayai melalui cara kita menjalani hidup.
Ini juga bisa terjadi dalam hidup kita. Kita bisa berkata, “Tuhan berdaulat,” tetapi tetap panik ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana kita. Kita bisa berkata, “Tuhan adalah penyedia hidupku,” tetapi hidup dalam ketakutan seolah-olah semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Kita bisa berkata, “Aku mengasihi Tuhan,” tetapi terus memilih sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan firman-Nya. Kita bisa mengetahui banyak hal tentang Injil, bisa melayani, mengajar, bahkan berbicara dengan baik tentang Tuhan, tetapi kehidupan kita sehari-hari mungkin menunjukkan bahwa kita sebenarnya masih hidup untuk diri sendiri. Itulah sebabnya kita perlu berhati-hati. Mengetahui kebenaran tentang Tuhan tidak otomatis berarti kita hidup berdasarkan kebenaran itu.
Hari ini, musuh jiwa kita bisa menggunakan pengetahuan teologi kita untuk membuat kita merasa aman, sementara kehidupan kita sebenarnya tidak mencerminkan apa yang kita katakan kita percaya. Karena itu, kita membutuhkan kasih karunia Tuhan bukan hanya untuk mengetahui apa yang benar, tetapi juga untuk menjalani kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kiranya apa yang kita katakan kita percaya tentang Tuhan benar-benar terlihat dalam cara kita berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, bekerja, melayani, dan menjalani kehidupan setiap hari. Dan inilah kabar baiknya: Yesus tidak hanya datang untuk mengampuni ketidakkonsistenan kita, tetapi juga untuk mengubah hati kita. Roh Kudus bekerja di dalam kita supaya iman yang kita akui dengan mulut semakin nyata dalam kehidupan kita. Untuk itu, jangan hanya memiliki teologi yang benar di kepala. Mintalah Tuhan membentuk hati dan hidup kita sehingga apa yang kita percaya benar-benar menjadi cara kita hidup.
Refleksi
Bacalah Matius 15:1-20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Obaja 1 - Yunus 4