KUASA ALLAH TIDAK PERNAH MENGECIL
YEREMIA 46–48
Kita tidak boleh membiarkan diri kita meremehkan kuasa dan otoritas Allah yang tidak terbatas.
Kita tahu bahwa banyak ketakutan, kecemasan, keputusasaan, dan hilangnya semangat dalam hidup kita muncul karena kita memiliki pemahaman yang keliru tentang Allah. Pada dasarnya, apa yang menjadi pusat seluruh Alkitab? Tentang keberadaan, karakter, dan rencana Allah. Setiap bagian lain dari Kitab Suci mengalir dari kenyataan tentang siapa Allah itu.
Ketika pemahaman kita tentang Allah terlalu kecil atau keliru, hal itu akan memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Kita dapat melihat hal ini ketika mendampingi seseorang yang sedang bergumul untuk mempercayai Tuhan. Ketika kita mendengarkan bagaimana ia memahami siapa Tuhan, kita mungkin segera mengerti mengapa ia kesulitan mempercayai-Nya. Kita bahkan mungkin berpikir, “Kalau saya berpikir bahwa Tuhan seperti itu, saya juga akan kesulitan mempercayai-Nya.”
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan kita adalah kita menganggap Allah terlalu kecil. Allah yang ada dalam pikiran kita sering kali tidak memiliki kuasa, kemuliaan, dan otoritas yang luar biasa seperti yang dimiliki Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Allah dalam Alkitab menciptakan dunia dari ketiadaan. Ia menopang seluruh ciptaan dengan kuasa-Nya. Tidak ada seorang pun dan tidak ada satu pun keadaan yang berada di luar pemerintahan-Nya. Allah memerintah bangsa-bangsa, dan kehendak-Nya pasti terlaksana. Bahkan tidak ada sesuatu pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya.
Kuasa dan otoritas Allah yang luar biasa itu terlihat dengan jelas dalam bagian akhir kitab Yeremia. Allah menyatakan penghakiman-Nya atas bangsa-bangsa di sekitar umat-Nya. Dialah Tuhan, dan bangsa-bangsa tidak dapat melawan-Nya. Tidak seorang pun dapat mempertanyakan hak dan kuasa-Nya untuk menghakimi siapa yang hendak Ia hakimi.
Firman Tuhan datang kepada Yeremia dan Allah memerintahkannya untuk menyampaikan penghakiman atas Mesir, Filistin, Moab, Amon, Edom, Damsyik, Kedar dan kerajaan-kerajaan Hazor, Elam, serta Babel (Yer. 46:1). Semua bangsa itu mungkin tampak besar dan kuat. Namun di hadapan Allah, tidak ada satu pun yang memiliki kuasa untuk menantang atau menggagalkan kehendak-Nya. Allah adalah Raja yang berdaulat atas setiap bangsa. Ia berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya, kepada siapa pun, dan kapan pun Ia menghendakinya.
Allah menyatakan semua ini dalam firman-Nya supaya kita mengenal siapa Dia sebenarnya. Allah bukan hanya berkuasa atas bangsa-bangsa. Ia memerintah seluruh alam semesta. Ia duduk di takhta-Nya dalam kuasa dan kemuliaan yang tidak terbatas. Segala sesuatu yang membuat kita takut dan cemas tetap berada di bawah pemerintahan-Nya. Karena itu, ketika kita merasa hidup kita berada di luar kendali, kita perlu mengingat kembali siapa Allah kita. Ketika masa depan terlihat menakutkan, kita perlu melihat bukan hanya besarnya masalah kita, tetapi besarnya Allah yang memegang hidup kita.
Namun pengharapan kita bukan sekadar bahwa Allah itu berkuasa. Injil menunjukkan kepada kita bahwa Allah yang Mahakuasa itu juga adalah Allah yang datang mendekat kepada kita di dalam Kristus. Kuasa-Nya tidak digunakan untuk menghancurkan umat yang datang kepada-Nya dengan iman, melainkan untuk menyelamatkan dan memelihara mereka. Di dalam Kristus, kita melihat bahwa Allah yang berdaulat atas segala sesuatu adalah Allah yang rela memberikan Anak-Nya bagi kita. Salib mengingatkan kita bahwa bahkan ketika segala sesuatu tampak berada di luar kendali, Allah sedang mengerjakan rencana penebusan-Nya. Apa yang tampak seperti kekalahan terbesar (kematian Kristus) justru menjadi jalan keselamatan bagi umat-Nya.
Maka jangan biarkan ketakutan membuat Allah terlihat kecil dalam pikiran kita. Masalah kita mungkin besar. Dunia mungkin penuh dengan hal-hal yang membuat kita cemas. Masa depan mungkin tidak dapat kita lihat dengan jelas. Tetapi tidak ada satu pun yang terlalu besar bagi Allah, dan tidak ada kebutuhan kita yang berada di luar kuasa-Nya untuk menolong.
Kiranya Allah yang kita pikirkan bukanlah Allah yang terlalu kecil. Kiranya kemuliaan, kuasa, dan otoritas-Nya yang tidak terbatas memenuhi hati kita sehingga tidak ada apa pun dalam ciptaan yang mampu melumpuhkan kita dengan ketakutan. Dan ketika kita takut, kiranya kita kembali memandang kepada Kristus. Karena itu, kita dapat menghadapi hari ini bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah kita besar, berdaulat, dan setia.
Refleksi
Bacalah Kisah Para Rasul 17:22–31 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 46-48