HATI YANG DIMILIKI ALLAH
YEREMIA 42–45
Tuhan tidak suka ketika sesuatu yang Dia ciptakan justru kita jadikan sebagai pengganti-Nya.
Kita sering membayangkan penyembahan berhala sebagai sesuatu yang sangat jelas, seperti seseorang yang membungkuk di hadapan patung kayu, batu, atau logam dan menyembahnya. Karena itu, kita mungkin merasa, “Saya tidak pernah melakukan hal seperti itu.” Namun, Alkitab menunjukkan bahwa berhala jauh lebih dekat daripada yang kita kira. Bahkan sesuatu yang sebenarnya baik dapat berubah menjadi berhala. Keluarga adalah pemberian Allah yang baik. Pekerjaan adalah pemberian Allah yang baik. Pelayanan, pendidikan, relasi, kesehatan, uang, keberhasilan, semuanya dapat menjadi berkat. Tetapi ketika sesuatu yang baik mulai menjadi sesuatu yang paling kita butuhkan untuk merasa aman, berharga, bahagia, atau berarti, sesuatu itu telah mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Allah.
Kita bisa begitu mengejar pelayanan sampai pelayanan menjadi identitas kita. Kita bisa begitu mengejar keberhasilan sampai nilai diri kita ditentukan oleh pencapaian. Kita bisa begitu ingin dikasihi sampai kita rela melakukan apa pun agar diterima orang lain. Penyembahan berhala dalam kehidupan sehari-hari sering kali begitu halus dan menipu. Dan berhala yang paling mudah menggoda sekaligus paling menipu adalah diri kita sendiri. Rasul Paulus berkata dalam 2 Korintus 5:15 bahwa Kristus datang supaya kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri.
Karena Tuhan memahami pergumulan kita dengan penyembahan berhala, Dia mencatat dan memelihara bagi kita kisah tentang murka-Nya terhadap penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat-Nya: “Firman yang datang kepada Yeremia untuk semua orang Yehuda yang diam di tanah Mesir, di Migdol, di Tahpanhes, di Memfis dan di tanah Patros: "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kamu telah mengalami segenap malapetaka yang telah Kudatangkan atas Yerusalem dan atas segala kota Yehuda; sungguh, semuanya itu kini sudah menjadi reruntuhan dan tidak ada seorangpun diam di sana. Itu disebabkan oleh kejahatan yang telah mereka lakukan untuk menimbulkan sakit hati-Ku, yakni mereka pergi membakar korban dan beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal oleh mereka sendiri, oleh kamu atau oleh nenek moyangmu. Terus-menerus Aku telah mengutus kepadamu semua hamba-Ku, para nabi, dengan mengatakan: Janganlah hendaknya kamu melakukan kejijikan yang Aku benci ini! Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikan supaya berbalik dari kejahatan mereka dan tidak membakar korban lagi kepada allah lain.” (Yer. 44:1–5).
Allah begitu serius terhadap penyembahan berhala karena hati manusia adalah milik-Nya. Dia menciptakan kita untuk mengenal, mengasihi, menikmati, dan menyembah Dia. Karena itu, ketika kita memberikan kasih, kepercayaan, dan penyembahan yang seharusnya diberikan kepada Allah kepada sesuatu yang diciptakan, kita sedang menempatkan ciptaan di tempat Pencipta. Dan Allah tidak tinggal diam. Mengapa? Karena kemarahan Allah terhadap penyembahan berhala lahir dari kasih-Nya.
Allah bukan seperti seseorang yang marah karena merasa tersaingi. Dia marah karena Dia tahu bahwa tidak ada sesuatu pun selain diri-Nya yang sanggup menjadi Allah bagi kita. Ketika kita menjadikan ciptaan sebagai pusat hidup, kita sebenarnya sedang menyerahkan hati kita kepada sesuatu yang tidak akan pernah mampu memenuhi kebutuhan terdalam kita.
Yang lebih berbahaya, berhala sering kali tidak terlihat seperti berhala. Ia bisa terlihat seperti sesuatu yang sangat baik. Kita dapat berkata, “Saya melakukan semua ini demi keluarga.” Tetapi mungkin sebenarnya kita takut kehilangan penerimaan mereka. Kita dapat berkata, “Saya ingin berhasil supaya dapat memuliakan Tuhan.” Tetapi mungkin hati kita sebenarnya sangat membutuhkan pengakuan. Kita dapat berkata, “Saya ingin melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya.” Tetapi mungkin kita tidak lagi bisa menerima ketika pelayanan kita tidak dihargai. Artinya, berhala tidak selalu meminta kita meninggalkan agama. Kadang-kadang berhala justru memakai hal-hal rohani untuk mengambil tempat Allah di dalam hati kita.
Namun, sekali lagi, Injil tidak membawa kita kepada sekadar usaha untuk menghancurkan semua berhala dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan hati yang menemukan kepuasan yang lebih besar di dalam Kristus. Yesus datang untuk menyelamatkan kita bukan hanya dari hukuman dosa, tetapi juga dari perbudakan hati kepada berhala. Di dalam Dia, kita menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa pun yang dunia tawarkan. Di kayu salib, kita melihat betapa jauh kasih Allah kepada kita. Kita tidak perlu lagi menggunakan ciptaan untuk membuktikan bahwa kita berharga. Nilai kita tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, siapa yang mengasihi kita, atau seberapa banyak yang telah kita capai. Kita berharga karena Allah mengasihi kita dan Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi kita.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang menunjukkan satu hal yang diam-diam telah mengambil tempat-Nya di dalam hatimu. Allah tidak ingin berbagi takhta hati kita dengan sesuatu yang lain. Bukan karena Dia membutuhkan penyembahan kita untuk menjadi lengkap, tetapi karena Dia tahu bahwa hanya ketika Dia menjadi pusat hidup kita, kita benar-benar hidup sebagaimana kita diciptakan. Sebab Tuhan tidak hanya menginginkan sebagian hati kita. Dia telah memilih kita menjadi milik-Nya, dan Dia rindu hati kita hanya diperintah oleh-Nya.
Refleksi
Bacalah Roma 1:18–25 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 42-45