BELAS KASIHAN ALLAH
1 RAJA-RAJA 21–22
Satu-satunya harapan bagi orang berdosa adalah belas kasihan Allah yang sungguh nyata.
Dosa itu nyata. Dosa merusak, dan pada akhirnya selalu membawa kepada kematian. Dosa adalah “wabah” terbesar dalam hidup manusia, tidak ada seorang pun yang luput darinya. Tidak ada manusia yang mampu mengalahkannya dengan kekuatannya sendiri. Usaha untuk memperbaiki diri tidak cukup untuk menghancurkan kuasa dosa. Setiap orang lahir dengan penyakit rohani ini, dan tanpa campur tangan Allah, akan membawanya sampai kepada kebinasaan.
Dosa muncul dalam pikiran dan keinginan kita. Dosa mempengaruhi cara kita berbicara dan juga cara kita mendengar. Dosa merusak hubungan, menciptakan konflik di tempat yang seharusnya ada damai. Dosa membuat kita menolak Allah, atau bahkan marah terhadap kehendak-Nya. Dosa membuat kita berpusat pada diri sendiri, egois, merasa diri paling benar, dan selalu membela diri. Kita jadi lebih ingin menguasai daripada melayani. Bahkan, kita mudah menjadikan segala sesuatu sebagai berhala, karena kita kehilangan rasa kagum kepada Allah yang seharusnya kita sembah.
Dosa lebih dalam dari yang kita bayangkan—dan karena itu, kasih karunia Allah jauh lebih kita butuhkan daripada yang sering kita pikirkan. Sekecil apapun kita mencoba meremehkan dosa, tanpa campur tangan Allah, kita tetap hidup di bawah kuasanya.
Belas kasihan Allah adalah tema yang terus muncul di sepanjang Alkitab. Berulang kali kita melihat kenyataan dosa yang begitu nyata, tetapi juga kasih Allah yang begitu nyata. Kadang kita bisa bertanya, “Bagaimana mungkin Allah bisa begitu sabar? Bagaimana Ia bisa tetap begitu baik? Apakah belas kasihan-Nya tidak akan habis?”
Salah satu contoh yang sangat kuat kita lihat dalam 1 Raja-raja 21:25–29: “Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: ‘Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya.’”
Perhatikan bagaimana Ahab digambarkan. Ia adalah orang yang sangat jahat, hidup dalam penyembahan berhala, bahkan menjerumuskan orang lain. Bukan hanya itu, ia juga membawa orang lain masuk ke dalam dosa yang sama. Secara logika, kita mungkin berpikir bahwa Allah akan segera menghukumnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Ahab merendahkan diri dan menunjukkan penyesalan atas dosanya, Allah merespons dengan belas kasihan, bukan penghukuman.
Bagian ini mengarahkan kita kepada salib Yesus Kristus. Di salib, kita melihat dua hal yang sama-sama nyata: dosa itu serius dan memiliki konsekuensi, tetapi belas kasihan Allah juga nyata dan pada akhirnya menang atas penghukuman. Di salib, keadilan Allah dipenuhi dan belas kasihan-Nya dinyatakan. Yesus menanggung hukuman dosa kita, supaya kita yang berdosa bisa menerima pengampunan.
Dosa adalah kabar buruk yang harus kita akui. Tetapi kasih karunia adalah kabar baik yang kita semua butuhkan. Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan kasih karunia. Harapan kita bukan pada usaha kita, tetapi pada belas kasihan Allah yang dinyatakan Yesus Kristus.
Refleksi
Bacalah Keluaran 34:6–7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 21-22