MENUKAR ALLAH DENGAN BERHALA
Hakim-Hakim 3–5

 

Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ketika penyembahan dan pelayanan kepada Tuhan kita tukar dengan berbagai “pengganti Allah” yang tidak pernah memuaskan.

 

Sungguh menyedihkan melihat betapa buta dan bodohnya kita. Sering kali kita merasa cukup dengan hal-hal moral yang dangkal. Lebih menyedihkan lagi ketika seseorang rela menukar kebaikan dari Tuhan dengan sesuatu yang buruk dari dunia. Betapa tragis ketika seseorang menggenggam kenikmatan sementara sambil melepaskan kemuliaan yang kekal. Lebih lagi, ketika mulai mempercayai kebohongan musuh seolah-olah itu kebenaran, dan justru meragukan kebenaran Tuhan. Pada akhirnya, jelas bahwa seluruh kisah hidup kita berbicara tentang satu hal yaitu penyembahan.

 

Fungsi paling mendasar dari manusia adalah menyembah. Setiap orang pasti menyembah. Tidak ada manusia yang netral. Bahkan orang yang paling tidak religius pun tetap seorang penyembah, karena memang demikian manusia diciptakan. Kemampuan ini seharusnya mengarahkan kepada Tuhan, mempersembahkan hidup kepada-Nya, dan menemukan identitas, makna, tujuan, serta rest sejati di dalam Dia. Sebagai penyembah, manusia akan selalu memberikan kendali hatinya kepada sesuatu. Apa yang menguasai hati akan membentuk pikiran, keinginan, pilihan, perkataan, dan tindakan. Tidak ada yang lebih membentuk hidup selain penyembahan.

 

Bangsa Israel dipilih menjadi umat Tuhan. Mereka diberkati dengan kehadiran-Nya, kasih karunia-Nya, dan kasih-Nya. Tuhan mencurahkan kuasa-Nya untuk menyelamatkan, memelihara, membimbing, dan melindungi mereka. Ia menyediakan jalan pengampunan dosa, memberi hukum yang benar, dan menyatakan kemuliaan-Nya kepada mereka.

 

Mereka menerima semua itu bukan karena layak, tetapi karena anugerah. Mereka dipisahkan dari bangsa lain untuk menjadi milik Tuhan. Namun, di tengah segala kebaikan itu, muncul salah satu ayat yang paling menyedihkan dalam Hakim-Hakim 3:6: “Mereka mengambil anak-anak perempuan, orang-orang itu menjadi isteri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada allah orang-orang itu.” Di ayat ke-7 memperlihatkan kondisi hati mereka: “Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, lalu beribadah kepada para Baal dan para Asyera.” Perhatikan: “Mereka melupakan TUHAN, Allah mereka.”

 

Inilah inti dari dosa. Mereka membelakangi Allah yang penuh kemuliaan dan kasih karunia—Allah yang telah menaruh kasih-Nya atas mereka dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Mereka menukar Tuhan dengan berhala—benda mati yang tidak memiliki kehidupan, kasih, maupun kuasa. Inilah pusat dari dosa manusia: penyembahan yang salah arah.

 

Namun di sinilah Injil menjadi kabar baik. Kondisi hati yang cenderung menyembah berhala adalah alasan mengapa Yesus Kristus, datang. Ia datang untuk menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri, untuk membebaskan dari perbudakan berhala dalam hati. Kristus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa, tetapi untuk memulihkan hati agar kembali menyembah Tuhan dan Tuhan saja.

 

Di dalam Dia, ada kebebasan dari penyembahan yang salah, dan ada hidup baru untuk menyembah Dia yang benar—dengan hati yang utuh, bukan lagi terbagi.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 2:12–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 3-5