KETAATAN YANG SETENGAH HATI
Hakim-Hakim 1–2

 

Ketaatan yang setengah-setengah bukanlah ketaatan—itu adalah ketidaktaatan yang menyamar.

 

Apakah Anda menemukan sukacita dalam menaati Tuhan? Apakah Anda menghargai perintah-perintah-Nya? Apakah Anda menyadari bahwa batasan-batasan yang Tuhan tetapkan adalah bentuk perlindungan dan hikmat-Nya? Apakah Anda sungguh percaya bahwa jalan Tuhan selalu yang terbaik? Atau Anda memilih perintah mana yang ingin Anda taati, dan mana yang ingin Anda abaikan?

 

Apakah ada saat-saat ketika tindakanmu lebih dibentuk oleh keinginanmu sendiri daripada oleh perintah Tuhan? Meskipun secara teologi Anda tahu yang benar, dalam kehidupan sehari-hari, apakah Anda lebih mengasihi jalanmu sendiri daripada jalan Tuhan? Dalam hal apa saja muncul kecenderungan Anda meragukan hikmat Tuhan? Apakah Anda pernah menggunakan anugerah pengampunan sebagai alasan untuk melangkah keluar dari batasan moral yang Tuhan tetapkan? Apakah Anda merasa cukup dengan ketaatan yang setengah-setengah? Apakah Anda merespons teguran Tuhan, atau justru menolaknya?

 

Di awal kitab Hakim-Hakim, kita langsung melihat sebuah masalah yang akan terus menghantui bangsa Israel, menyebabkan kesulitan selama beberapa generasi, dan membuat mereka mengalami didikan Tuhan. Masalah itu adalah ketaatan yang setengah-setengah. Umat Tuhan memulai perjalanan di jalan yang benar, tetapi mereka tidak menyelesaikannya sampai akhir.

 

Ada banyak alasan mengapa orang memilih taat setengah hati. Ketaatan itu tidak mudah dan sering menuntut pengorbanan. Ketaatan menuntut kita untuk benar-benar percaya bahwa Tuhan itu bijaksana dan bahwa apa yang Dia perintahkan selalu yang terbaik. Ketaatan juga menuntut kita untuk mengakui bahwa kita bukan pusat dari segalanya—Tuhanlah pusatnya. Dan hidup ini adalah tentang kehendak-Nya dan kemuliaan-Nya. Ketaatan berarti menolak kesenangan dosa yang sementara. Karena itu, ketaatan yang setengah-setengah sebenarnya bukanlah ketaatan—itu adalah ketidaktaatan yang dibungkus seolah-olah taat.

 

Perhatikan apa yang dikatakan dalam Hakim-Hakim 2:1–3: “Lalu Malaikat TUHAN pergi dari Gilgal ke Bokhim dan berfirman: ‘Telah Kutuntun kamu keluar dari Mesir dan Kubawa kamu ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Aku telah berfirman: Aku tidak akan membatalkan perjanjian-Ku dengan kamu untuk selama-lamanya, tetapi kamu janganlah mengikat perjanjian dengan penduduk negeri ini; mezbah mereka harus kamu robohkan.’ Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku. Mengapakah kamu berbuat demikian? Sebab itu Aku juga berfirman: Aku tidak akan menghalau mereka dari depanmu, tetapi mereka akan menjadi penghalang bagimu, dan allah mereka akan menjadi jerat bagimu.’”

 

Tuhan telah memberikan tugas kepada Israel, yaitu menghalau bangsa-bangsa kafir sepenuhnya dari tanah perjanjian. Tetapi mereka tidak menyelesaikan tugas itu. Mereka memang berperang, tetapi akhirnya mereka memilih untuk hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa itu dan allah-allah palsu mereka. Dari sinilah banyak pergumulan rohani, konflik, dan didikan Tuhan yang kita baca di Perjanjian Lama bermula. Kita belajar bahwa ketaatan yang tidak utuh membuka pintu bagi kompromi dan kejatuhan

 

Bagian ini juga menunjuk pada kebutuhan akan Yesus Kristus. Ia datang untuk taat sepenuhnya menggantikan manusia. Allah mengetahui bahwa manusia, dengan kekuatannya sendiri, akan selalu gagal dan mudah puas dengan ketaatan yang setengah-setengah. Kristus adalah kebenaran kita, karena kebenaran kita seringkali tidak utuh. Di dalam Dia, ada pengampunan bagi kegagalan dan kekuatan untuk kita belajar hidup dalam ketaatan yang sejati—bukan lagi setengah hati, tetapi seluruh hidup bagi kemuliaan-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Filipi 2:1–11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 1-2