RASA AMAN SEJATI
YEHEZKIEL 28–30

 

Kita menemukan pengharapan bukan terutama karena kita mampu membuat hidup menjadi baik, tetapi karena Allah berkuasa dan terus bekerja demi kebaikan umat-Nya.

 

Di mana Anda mencari rasa aman dan pengharapan? Apakah Anda mengandalkan kemampuan untuk membangun karier yang baik? Membeli rumah di lingkungan yang baik? Memiliki anak-anak yang berhasil? Membangun lingkaran pertemanan yang memuaskan? Menabung sebanyak mungkin? Menjaga kesehatan? Di mana Anda berharap menemukan “kehidupan yang baik”?

 

Semua hal itu memang baik. Kita boleh bekerja keras, merencanakan masa depan, menabung, menjaga kesehatan, dan membangun keluarga yang baik. Namun, semuanya itu tidak boleh menjadi tempat kita menaruh rasa aman dan pengharapan yang terdalam. Sekuat apa pun usaha dan sebaik apa pun rencana kita, tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang benar-benar dapat kita pastikan. Kita tidak memiliki kuasa untuk mengendalikan semua hal yang diperlukan untuk mencapai apa yang kita impikan.

 

Ambillah pekerjaan atau karier sebagai contoh. Agar pekerjaan kita tetap stabil dan karier kita berkembang, kita membutuhkan keadaan ekonomi yang baik, industri yang sehat, tempat kerja yang mengambil keputusan dengan bijaksana, dan atasan yang menghargai serta mempercayai kita. Tetapi kita tidak dapat mengendalikan semua itu. Kita bisa bekerja dengan sungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik, tetapi sesuatu yang berada di luar kendali kita dapat berubah secara tiba-tiba. Dan dalam sekejap, keadaan kita bisa berubah. Karena itu, hati kita hanya akan benar-benar tenang ketika kita bersandar pada kebenaran bahwa Allah dengan penuh kasih dan kehendak-Nya menggunakan kuasa-Nya yang tidak terbatas untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya.

 

Dalam Yehezkiel 28–30, Allah menyatakan penghakiman-Nya terhadap bangsa-bangsa di sekitar Israel. Allah tidak hanya menghakimi mereka karena Ia kudus dan adil, tetapi juga karena Ia sedang bertindak untuk kebaikan umat-Nya. Allah berkata: “Dan tidak akan ada lagi bagi kaum Israel dari semua tetangganya yang menghina mereka, menjadi duri yang menusuk atau onak yang memedihkan. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan ALLAH.” (Yeh. 28:24).

 

Gambaran tentang “duri” dan “onak” menunjukkan bangsa-bangsa di sekitar Israel yang selama ini menjadi sumber luka dan penderitaan bagi umat Allah. Allah berjanji bahwa Ia akan bertindak sehingga umat-Nya tidak lagi terus-menerus diganggu dan dilukai oleh mereka. Perhatikan bahwa Allah menggunakan kuasa-Nya demi kebaikan umat-Nya. Ini berarti kita tidak perlu menaruh pengharapan terutama pada kemampuan kita mengendalikan keadaan.

 

Ada begitu banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita. Tetapi semuanya berada dalam kendali-Nya. Karena itu, pengharapan yang sejati bukanlah, “Saya akan baik-baik saja karena saya mampu mengatur semuanya.” Pengharapan kita adalah, “Saya dapat tetap tenang karena Allah memegang apa yang tidak mampu saya pegang.” Pengharapan dan rasa aman yang sejati tidak ditemukan dalam seberapa besar kekuatan kita, tetapi dalam kuasa Allah yang bekerja bagi kita.

 

Kita boleh bekerja keras, membuat rencana, dan melakukan bagian kita. Tetapi pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan di mana kita berhasil mengendalikan segala sesuatu. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang belajar beristirahat dalam pemerintahan Allah yang penuh kasih atas hidup kita. Jadi, ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita dapat percaya kepada Dia yang memegang hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

 

Refleksi
Bacalah Amsal 3:5–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 28-30