MASA DEPAN MULIA
2 RAJA-RAJA 1–3

 

Apa pun yang kita hadapi di dunia yang rusak ini, masa depan yang indah dan penuh kemuliaan telah disediakan bagi setiap anak Tuhan.

 

Ketakutan akan masa depan adalah hal yang sangat manusiawi. Kita cenderung takut pada hal yang tidak kita ketahui dan tidak bisa kita kendalikan. Namun, ketakutan itu dikalahkan oleh Injil. Karena oleh kasih karunia, kita telah dijadikan anak-anak Allah, Dia yang memegang kendali penuh, bukan hanya atas hari ini, tetapi juga atas seluruh masa depan kita, bahkan sampai kekekalan. Dan rencana-Nya itu tidak berakhir dengan kegelapan, melainkan dengan kemuliaan. Mungkin hari ini kita masih menangis karena pergumulan hidup, tetapi ada kemuliaan yang sudah Tuhan siapkan bagi kita.

 

Elia menjalani hidup yang tidak mudah. Ia dipanggil menjadi nabi di masa pemerintahan Ahab dan Izebel yang sangat jahat. Ia menghadapi banyak penolakan dan ancaman. Di tengah bangsa yang tenggelam dalam penyembahan berhala, Elia tetap berdiri untuk menyatakan kehadiran, kuasa, dan kemuliaan Allah. Ada saat-saat di mana ia merasa sendirian dan ditinggalkan. Tetapi Tuhan sudah menyiapkan akhir yang mulia baginya. “Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal. Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: ‘Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!’ Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.” (2Raj. 2:1, 11–12).

 

Peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi dalam Alkitab, seseorang diangkat ke surga tanpa mengalami kematian terlebih dahulu. Karena itu, kisah Elia bukan hanya unik, tetapi juga profetik (mengandung makna yang menunjuk ke sesuatu yang lebih besar). Perhatikan, Elia tidak sekadar “menghilang” lalu tiba-tiba ada di surga. Kereta dan kuda berapi datang menjemputnya. Ini bukan sekadar peristiwa biasa, ini adalah penyataan kehadiran Allah sendiri. Seolah-olah Tuhan sendiri datang menjemput hamba-Nya. Bukan perantara, bukan kebetulan, melainkan Allah yang berkuasa yang membawa Elia masuk ke dalam hadirat-Nya untuk selama-lamanya.

 

Betapa luar biasa dan indahnya momen itu bagi Elisa. Elisa menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan menjemput milik-Nya, membebaskannya dari dunia yang penuh dosa dan penderitaan, dan membawanya ke tempat di mana semua itu tidak ada lagi.

 

Apa yang terjadi pada Elia menjadi gambaran dari apa yang Tuhan sediakan bagi semua anak-Nya. Ini mengingatkan kita pada perkataan Yesus: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yoh. 14:3). Inilah kabar baiknya: Tuhan yang sama, yang datang menjemput Elia, suatu hari nanti juga akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput kita, supaya kita hidup bersama Dia selama-lamanya.

 

Karena itu, orang percaya tidak berjalan menuju masa depan yang gelap, tetapi menuju rumah Bapa. Salib Kristus sudah menjamin akhirnya. Air mata hari ini bukan akhir cerita. Bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus, masa depan selalu berakhir dalam kemuliaan.

 

Refleksi
Bacalah Roma 8:18–21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 1-3