MURKA ALLAH PADA DOSA
Bilangan 21–22

 

Allah, Hakim yang adil, juga adalah Penebus yang penuh anugerah. Karena dosa itu nyata dan mendatangkan maut, maka penghukuman sekaligus pendamaian sangatlah diperlukan.

 

Kita tentu tidak ingin hidup di sebuah kota tanpa hukum, tanpa hukuman bagi kejahatan, dan tanpa pemulihan bagi pelanggar. Hidup di kota semacam itu akan berbahaya dan tidak tertahankan. Demikian juga, kita patut bersyukur bahwa Allah adalah Hakim yang benar-benar kudus, yang membenci dosa dalam segala bentuknya.

 

Kita patut bersyukur bahwa dosa memiliki konsekuensi dan hukuman. Kita harus bersyukur bahwa Dia yang duduk di takhta alam semesta menganggap serius dosa dan murka terhadap dosa setiap hari. Jika Allah berpaling dan membiarkan dosa merajalela di bumi, kita tidak akan punya harapan. Namun di saat yang sama, kita tidak boleh berhenti merayakan bahwa karena Allah adalah Allah, Ia tidak hanya menghakimi dosa tetapi juga mengulurkan anugerah bagi orang berdosa. Inilah alur besar dari kisah Alkitab: dosa, penghukuman, dan pendamaian.

 

Alur tersebut terlihat jelas dalam Bilangan 21:4–9. Bangsa Israel menyerang karakter Allah sendiri: kebaikan-Nya, kesetiaan-Nya, dan komitmen-Nya untuk memelihara. Mereka berkata bahwa mereka membenci jalan ke mana Allah menuntun mereka dan muak dengan apa yang Allah sediakan. Tidak mungkin Allah yang kudus, yang mengasihi anak-anak-Nya, akan membiarkan pemberontakan ini begitu saja. Maka, Allah mengirimkan ular-ular tedung yang mematikan ke tengah-tengah umat-Nya. Ular-ular itu adalah bentuk disiplin sekaligus peringatan.

 

Namun, Allah tidak berhenti di situ. Ia tidak berniat membinasakan umat-Nya. Saat Ia mendisiplinkan mereka dalam murka yang adil, Ia ingat akan perjanjian-Nya dan menyediakan jalan keselamatan. Ia memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; siapa pun yang memandangnya akan tetap hidup. Di sinilah tampak kembali pola besar kisah Alkitab: dosa, penghakiman, dan pendamaian. Bahkan, peristiwa ini menunjuk ke depan, kepada puncak rencana Allah. Akan ada "tiang" atau kayu lain. Yang dipaku di sana bukanlah seekor ular, melainkan Anak Allah. Ia tergantung di sana sebagai korban pendamaian bagi dosa kita (Yoh. 3:14–15).

 

Kita pun telah mempertanyakan kebaikan Allah. Seringkali kita merasa muak dengan apa yang telah Ia sediakan. Kita memberontak terhadap otoritas-Nya dan memilih jalan kita sendiri. Kita sering menoleh kembali berhala-berhala yang dulu memperbudak kita. Kita layak menerima hukuman Allah, tetapi Ia menemui kita di kayu salib di luar tembok kota itu. Murka-Nya terhadap dosa dan kasih karunia-Nya terhadap orang berdosa bertemu di dalam karya Yesus Kristus.

 

Karena kemarahan Allah yang tak pernah berkompromi terhadap dosa dan karena besarnya anugerah-Nya, akan tiba harinya di mana dosa tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi pemberontakan, tidak ada lagi keraguan akan kebaikan-Nya. Kita akan bersama-Nya di tempat yang penuh damai dan kebenaran selamanya. Allah menganggap serius dosa, dan justru karena itulah kita memiliki pengharapan sekarang dan sampai selama-lamanya.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 96:10–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 21-22