AKULAH BAGIANMU
Bilangan 18–20
Tuhan bukan hanya Penyedia yang sempurna, tetapi Ia sendiri adalah Pemberian yang paling sempurna.
Tidak ada yang memberi rasa aman dan ketenangan hati yang lebih besar daripada mengetahui bahwa Raja segala raja telah berjanji untuk memelihara kita. Tuhan adalah Pencipta, Pemilik, Penopang, dan Penguasa atas segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang ada di luar perintah-Nya. Ketika Ia berkata akan menyediakan, Ia tidak hanya memiliki kedudukan dan kuasa untuk melakukannya, tetapi perbendaharaan-Nya pun tidak terbatas. Karena mata-Nya selalu tertuju kepada anak-anak-Nya dan telinga-Nya selalu terbuka terhadap seruan mereka, Ia tidak pernah gagal menyediakan apa yang mereka butuhkan, tepat pada waktunya. Inilah kesetiaan Tuhan kepada semua anak-anak-Nya.
Namun, janji-Nya kepada Harun dan para imam suku Lewi berbeda dan unik. Karena tugas keimaman mereka, mereka tidak memiliki sumber penghidupan tetap dan tidak mendapat warisan tanah. Tuhan menetapkan sistem persepuluhan agar kebutuhan mereka tercukupi. Namun, keamanan mereka bukan terletak pada sistem itu, melainkan pada komitmen Tuhan yang setia dan berkuasa. Perhatikan firman Tuhan dalam Bilangan 18:20: "TUHAN berfirman kepada Harun: 'Di negeri mereka engkau tidak akan mendapat milik pusaka dan tidak akan mempunyai bagian di tengah-tengah mereka; Akulah bagianmu dan milik pusakamu di tengah-tengah orang Israel.'"
Kata-kata ini dimaksudkan untuk menanamkan pengharapan dan rasa aman. Ketika Tuhan berkata, "Akulah bagianmu," Ia mengatakan bahwa Ia adalah warisan mereka dan penyedia bagi mereka. Namun ada yang lebih mendalam: seolah-olah Tuhan berkata, "Jatahmu, bagianmu dari apa yang disediakan, adalah Aku sendiri. Aku bukan sekadar Penyedia bagimu; Aku adalah pemberian itu. Kamu memiliki harapan dan keamanan, apa pun yang terjadi, karena Aku, Tuhan semesta alam, telah memberikan diri-Ku kepadamu."
Lalu, apa kaitannya dengan kita? Oleh karena karena kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus, kita yang adalah anak-anak Allah oleh anugerah, telah menjadi "imamat yang rajani" dan "bangsa yang kudus" (1 Pet. 2:9). Oleh anugerah, kita dapat memasuki ruang maha kudus dan berdiri di hadapan Allah tanpa rasa takut. Oleh anugerah, kita telah dipanggil dan diterima untuk melayani dalam ibadah, mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup di hadapan-Nya (Rm. 12:1). Kita bukan sekadar anak angkat Allah; kita adalah komunitas imam di hadapan-Nya di bawah Imam Besar kita, Yesus Kristus.
Tuhan tidak hanya berkata kepada kita, "Akulah bagianmu selama-lamanya," atau menyediakan segala kebutuhan kita, tetapi Ia sendiri adalah pemberian yang sempurna. Ia telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita selamanya. Kita yang dulunya miskin sekarang menjadi kaya karena Allah adalah warisan kita yang kekal. Ia bukan hanya memberi apa yang kita butuhkan, lebih dari itu Ia adalah Pribadi yang paling kita butuhkan.
Anugerah ini terlalu besar dan mulia untuk sepenuhnya dipahami oleh pikiran kita yang terbatas. Dalam segala kemuliaan-Nya, Allah telah memberikan diri-Nya kepada kita. Adakah kabar yang lebih baik dari ini? Mintalah pada Roh Kudus agar Ia menuntun kita hidup dalam rasa syukur, kepercayaan penuh, dan sukacita yang teguh, karena dalam Injil, Allah sendiri menjadi bagian kita untuk selama-lamanya.
Refleksi
Bacalah Yohanes 6:25–40 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 18-20