IMAN YANG TERLIHAT DARI CARA KITA MENGASIHI
LUKAS 6-7

 

Jika seseorang bertanya kepada Anda, “Seperti apa kehidupan orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan?” Apa jawabanmu?

 

Kita perlu memahami dengan benar apa artinya memiliki iman yang sejati menurut Alkitab. Ada banyak bagian di Alkitab menunjukkan bahwa iman yang sejati bukan sekadar mengakui bahwa Allah itu ada. Iman yang sejati mengubah cara kita menjalani hidup. 

 

Ada jutaan orang yang mengatakan bahwa mereka percaya kepada Tuhan. Namun, tidak semua orang menjadikan kepercayaan itu membentuk pikiran, sikap, dan tindakan mereka. Bahkan, ada orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi hidupnya justru menunjukkan kebohongan, keserakahan, dan kurangnya kasih kepada sesama. 

 

Cara kita menjalani hidup sering kali menunjukkan apa yang sebenarnya kita percayai, lebih daripada kata-kata yang kita ucapkan. Iman bukan hanya tentang apa yang kita ketahui atau akui dengan mulut. Iman yang sejati membawa perubahan hati yang kemudian terlihat dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Jika kita sungguh percaya bahwa Allah adalah seperti yang dinyatakan Alkitab, bahwa firman-Nya benar, bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan melalui Anak-Nya, dan bahwa perintah-perintah-Nya itu baik dan benar, maka iman tersebut akan memengaruhi setiap bagian kehidupan kita. Dalam Injil Lukas, kita menemukan sebuah gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana iman yang sejati terlihat dalam kehidupan seseorang. Yesus berkata kepada para pengikut-Nya: “Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk. 6:27–28).

 

Perintah ini sungguh bertentangan dengan kecenderungan hati manusia. Kita bisa memahami mengapa kita perlu mengasihi keluarga dan sahabat. Namun, mengasihi orang yang menyakiti kita, bahkan mendoakan mereka yang memperlakukan kita dengan buruk, adalah sesuatu yang jauh lebih sulit. Apa yang dapat mendorong kita untuk hidup seperti itu? Ketika seseorang memperlakukan kita dengan tidak adil, dari mana kita memperoleh kekuatan untuk tidak membalasnya dengan perlakuan yang sama?

 

Yesus menjawab pertanyaan ini melalui pengajaran-Nya dalam Lukas 6:32–36. Ia menjelaskan bahwa mengasihi orang yang mengasihi kita bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bahkan orang-orang berdosa pun melakukan hal yang sama. Namun, Yesus memanggil para pengikut-Nya untuk hidup dengan cara yang berbeda. Mereka dipanggil untuk mengasihi musuh, berbuat baik tanpa mengharapkan balasan, dan menunjukkan kemurahan hati bahkan kepada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih.

 

Yesus menutup pengajaran ini dengan berkata: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk. 6:36). Perhatikan bahwa Yesus tidak sekadar meminta kita menjadi orang yang lebih baik. Ia sedang menunjukkan seperti apa kehidupan seseorang yang sungguh mengenal Allah dan percaya kepada-Nya.

 

Mengasihi orang yang membalas kasih kita tidak selalu menunjukkan adanya iman yang sejati, sebab orang yang tidak percaya kepada Tuhan pun dapat melakukannya. Namun, ketika kita sanggup menunjukkan kasih dan kemurahan hati kepada orang yang justru menyakiti kita, di situlah iman kita kepada Allah benar-benar diuji. Mengapa demikian? Karena kita hanya dapat hidup dengan kasih seperti itu ketika kita sungguh percaya kepada siapa Allah itu.

 

Lebih dari itu, Injil mengingatkan kita bahwa kemurahan hati yang Yesus perintahkan bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Kita sendiri telah menjadi penerima kemurahan hati Allah. Kristus telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika kita masih berdosa dan hidup sebagai seteru Allah. Di dalam kasih karunia-Nya, Ia datang untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

 

Jika sampai hari ini, kita masih menghadapi orang yang menyakiti atau memperlakukan kita dengan buruk/jahat, kita tidak perlu dikuasai oleh ketakutan ataupun keinginan untuk membalas. Kita dapat belajar merespons dengan kemurahan hati yang sama seperti yang Allah tunjukkan kepada kita setiap hari. Sebab iman yang sejati bukan hanya terlihat ketika kita mengaku percaya kepada kasih Allah, tetapi juga ketika kasih yang telah kita terima dari Kristus mulai mengubah cara kita memperlakukan orang lain.