MENGENAL YESUS ADALAH ANUGERAH
LUKAS 4-5

 

Karena Yesus menyatakan dengan jelas siapa diri-Nya dan apa misi-Nya, kita tidak seharusnya meragukan siapa Dia atau untuk apa Dia datang.

 

Peristiwa yang akan kita perhatikan ini terjadi pada awal pelayanan Yesus di bumi, tepat setelah Ia mengalami pencobaan selama empat puluh hari di padang gurun. “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf?" (Luk. 4:16–22).

 

Sekilas, tidak ada yang luar biasa ketika seseorang berdiri dan membaca gulungan Kitab Suci di rumah ibadat. Orang-orang sudah sering menyaksikan hal seperti itu setiap hari Sabat. Namun, apa yang terjadi setelah Yesus selesai membaca merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan dan pelayanan-Nya, bahkan dalam seluruh sejarah penebusan Allah. 

 

Bayangkan suasananya. Orang-orang melihat Yesus menggulung kembali kitab yang baru saja dibaca-Nya, menyerahkannya kepada petugas rumah ibadat, lalu duduk. Mereka menantikan apa yang akan dikatakan-Nya. Namun, mereka justru mendengar pernyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya: Yesus menyatakan bahwa nubuat Kitab Suci yang baru saja mereka dengar sedang digenapi di hadapan mereka (Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya). Dengan perkataan itu, Yesus menyatakan bahwa Dialah Mesias yang telah lama dijanjikan Allah. 

 

Pada mulanya, orang banyak tampak menerima perkataan-Nya. Namun, tidak lama kemudian, mereka mulai mempertanyakan siapa Dia sebenarnya. Bukankah Yesus adalah anak Yusuf? Yesus kemudian membandingkan ketidakpercayaan mereka dengan penolakan yang dialami nabi Elia dan Elisa pada zaman dahulu. Mendengar hal itu, orang-orang menjadi sangat marah. Mereka bahkan bangkit, mengusir Yesus ke luar kota, dan berusaha melemparkan-Nya dari tebing (Luk. 4:22–30). 

 

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita sesuatu yang penting yaitu kita membutuhkan anugerah Allah untuk dapat mengenali Yesus sebagai Mesias, menyerahkan diri kepada-Nya, menyembah-Nya, dan bersukacita di dalam Dia. Tanpa anugerah yang membuka mata hati kita, berita tentang Allah yang datang menjadi manusia akan tampak seperti sesuatu yang tidak masuk akal bagi pemikiran manusia yang berdosa.

 

Karena itu, jika hari ini Anda percaya kepada Yesus, sadarilah bahwa iman Anda bukanlah hasil kehebatan atau kebaikan diri sendiri. Anda dapat percaya karena Allah, dalam kasih karunia-Nya, telah membuka hati Anda untuk mengenal dan menerima Kristus. Iman merupakan pemberian yang begitu berharga dari Bapa surgawi yang penuh belas kasihan.

 

Jika iman kepada Kristus telah menguasai hati dan mengarahkan hidup Anda, janganlah menyombongkan diri seolah-olah semuanya terjadi karena usaha Anda sendiri. Sebab tidak ada yang layak kita banggakan selain kasih karunia Kristus yang telah datang ke dunia, menderita, mati, dan bangkit untuk menyelamatkan kita.

 

Refleksi
Bacalah Yohanes 6:25-40 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 4-5