MURKA TUHAN ATAS DOSA
NAHUM 1-3

 

Tidak ada seorang pun yang mampu bertahan di hadapan murka Tuhan. Karena itu, kita bersyukur atas kasih karunia-Nya yang mengampuni dan mendamaikan kita dengan-Nya.

 

Kitab Nahum dimulai dengan gambaran yang cukup menggetarkan tentang murka Tuhan. Gambaran ini dicatat dan dipelihara bagi kita sebagai sebuah peringatan sekaligus pertolongan. Sering kali ketika membaca Perjanjian Lama dan menemukan gambaran tentang murka Tuhan, kita mungkin merasa tidak nyaman atau bahkan ragu apakah Tuhan benar-benar baik. Tetapi ketika kita membaca seluruh Alkitab, kita akan melihat bahwa Tuhan tidak menyembunyikan murka-Nya dari kita. Dia tidak malu menunjukkan bahwa Dia membenci dosa. Tuhan tidak memiliki kelemahan moral sedikit pun. Dia sepenuhnya kudus. Dan justru karena Dia kudus, Dia tidak mungkin menganggap dosa sebagai sesuatu yang sepele. Kemarahan Tuhan terhadap dosa justru menunjukkan betapa kudus dan baiknya Dia. Tuhan tidak bisa melihat kejahatan dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

 

Tuhan berulang kali menyatakan murka-Nya terhadap dosa karena ada alasan yang penting. Pertama, murka Tuhan mengingatkan kita betapa seriusnya dosa. Dosa bukan sekadar kesalahan kecil yang bisa kita abaikan. Dosa adalah pemberontakan terhadap Tuhan yang kudus. Hal ini penting karena dosa sering kali tidak terlihat begitu serius bagi kita. Kita bisa dengan mudah membenarkan dosa atau menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi murka Tuhan menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan melihat dosa.

 

Kedua, murka Tuhan terhadap dosa juga merupakan panggilan supaya kita tidak meremehkan atau menyangkal dosa, tetapi datang kepada Tuhan dan mengakuinya. Ketika Tuhan menyatakan murka-Nya terhadap dosa, Dia sedang menunjukkan bahwa akan ada penghakiman terakhir ketika dosa benar-benar dikalahkan untuk selama-lamanya. Tetapi ada sesuatu yang indah di balik semua ini. Tuhan menyatakan murka-Nya terhadap dosa juga supaya kita melihat betapa dalamnya kasih karunia-Nya kepada kita.

 

Kita mulai menyadari bahwa jika kita berdiri di hadapan Tuhan hanya berdasarkan kebaikan kita sendiri, kita tidak akan pernah mampu bertahan. Namun, Tuhan tidak membiarkan kita berhenti di sana. Semua gambaran tentang murka Tuhan terhadap dosa pada akhirnya menunjuk kepada Yesus.

 

Melalui kehidupan Yesus yang sempurna, kematian-Nya menggantikan kita, dan kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan, murka Tuhan terhadap dosa kita ditanggung dan dipuaskan oleh Kristus. Di kayu salib, kekudusan Tuhan tidak dikompromikan, tetapi kasih karunia Tuhan juga dinyatakan dengan sempurna. Yesus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Dia menanggung penolakan yang seharusnya menjadi bagian kita. Dia melakukan semuanya supaya kita dapat diperdamaikan dengan Tuhan untuk selama-lamanya.

 

Karena itu, ketika kita membaca pertanyaan: “Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya.” (Nah. 1:6), ketahuilah bahwa Anda sedang dikasihi.

 

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan murka Tuhan berdasarkan kekuatan dan kebenarannya sendiri. Tetapi bagi kita yang ada di dalam Kristus, Yesus telah menanggung murka yang seharusnya kita terima.

 

Jadi, jangan pernah menganggap dosa sebagai sesuatu yang indah atau tidak berbahaya. Jangan berpikir bahwa kita bisa melarikan diri dari akibat dosa dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, biarkan murka Tuhan terhadap dosa membuat kita semakin menghargai betapa besar kebutuhan kita akan Yesus. Di dalam Kristus, kita tidak lagi berdiri di hadapan Tuhan sebagai orang yang harus menanggung hukuman kita sendiri. Kita berdiri sebagai orang yang telah diperdamaikan dengan-Nya.

 

Itulah kasih karunia yang luar biasa.

 

Refleksi
Bacalah Roma 2:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1-3