ALLAH BERKUASA MELAKUKAN RENCANA-NYA
YEREMIA 51-52

 

Tuhan kita memiliki kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang telah Ia kehendaki.

 

Bagaimana kita memahami kuasa Allah? Apakah kita pernah meragukan apa yang sanggup Ia lakukan? Apakah kita pernah bertanya-tanya apakah Allah benar-benar mampu menggenapi apa yang telah Ia janjikan? Atau ketika melihat keadaan dunia yang begitu kacau, apakah kita mulai mempertanyakan kuasa dan otoritas-Nya atas dunia yang Ia ciptakan? Kadang-kadang, tanpa kita sadari, kita memiliki gambaran tentang Allah yang terlalu kecil. Kita tahu bahwa Allah berkuasa, tetapi ketika menghadapi masalah yang besar, kita hidup seolah-olah masalah kita lebih besar daripada kuasa-Nya.

 

Di bagian akhir kitab Yeremia, Allah menyatakan bahwa Ia akan menghancurkan Babel. Ini bukanlah pernyataan yang kecil. Babel adalah bangsa yang sangat kuat dan pada saat itu menjadi kekuatan besar di dunia. Babel memerintah dengan kekuatan yang menghancurkan bangsa-bangsa. Dari sudut pandang manusia, sepertinya tidak ada yang mampu menghentikan Babel.

 

Namun justru kepada bangsa yang begitu kuat itulah Allah menyatakan bahwa pemerintahan mereka akan berakhir. Hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting: sebesar apa pun kekuatan manusia, tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak Allah. Allah menggunakan penghakiman atas Babel untuk menyatakan siapa diri-Nya, bukan hanya kepada orang-orang yang hidup pada zaman Yeremia, tetapi juga kepada kita hari ini. Allah tidak menyembunyikan diri-Nya dari manusia. Ia menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya supaya kita mengenal siapa Dia dan belajar percaya kepada-Nya. Karena itu, ketika Allah menyatakan penghakiman-Nya atas Babel, Ia sedang mengingatkan kita bahwa Ia memiliki kuasa untuk melakukan apa pun yang Ia kehendaki dan menggenapi apa pun yang telah Ia janjikan.

 

Siapakah Allah yang berkuasa atas Babel itu? Yeremia 51:15–19 mengingatkan kita bahwa Dialah Allah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan membentangkan langit dengan akal budi-Nya. Ketika Ia berfirman, alam semesta menaati-Nya. Ia mengatur hujan, kilat, awan, dan angin. Tidak ada bagian dari ciptaan yang berada di luar kuasa-Nya.

 

Sebaliknya, manusia sering kali membuat berhala dan kemudian mempercayainya. Tetapi berhala-berhala itu tidak memiliki kehidupan dan tidak memiliki kuasa untuk menyelamatkan. Karena itu Yeremia berkata: “Tidaklah begitu Dia yang menjadi bagian Yakub, sebab Dialah yang membentuk segala-galanya, dan Israel adalah suku milik-Nya; nama-Nya ialah TUHAN semesta alam!” (Yer. 51:19).

 

Inilah Allah kita. Dia bukan Allah yang hanya berkuasa dalam beberapa keadaan. Dia adalah Pencipta dan Raja atas segala sesuatu. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu kuat untuk Ia kalahkan. Tidak ada keadaan yang berada di luar pemerintahan-Nya. Tidak ada janji-Nya yang terlalu sulit untuk Ia genapi.

 

Dan di sinilah Injil menjadi sangat penting bagi kita. Kuasa Allah bukan hanya sesuatu yang seharusnya membuat kita kagum. Kuasa Allah menjadi pengharapan bagi orang berdosa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Di kayu salib, Yesus tampak lemah dan kalah. Ia ditolak, disalibkan, dan mati. Tetapi justru melalui salib itulah Allah sedang menggenapi rencana keselamatan-Nya. Apa yang tampak seperti kekalahan ternyata menjadi kemenangan atas dosa dan maut. Kristus bangkit dari kematian. Karena itu, kita memiliki dasar yang kokoh untuk percaya bahwa kuasa Allah tidak pernah gagal.

 

Mungkin hari ini kita sedang menghadapi sesuatu yang membuat kita takut. Kita mungkin sedang memikirkan masa depan, keluarga, pekerjaan, pelayanan, pergumulan dengan dosa, atau keadaan dunia yang semakin tidak menentu. Kita mungkin bertanya, “Apakah Allah sanggup menolong saya?” Jawabannya bukan sekadar, “Jangan khawatir.” Jawabannya adalah lihatlah siapa Allah kita.

 

Karena itu, jangan biarkan hati kita meragukan kuasa Allah. Kita boleh tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita mengenal Dia yang memegang hari esok. Kuasa Allah, yang berjalan bersama kasih karunia-Nya, adalah pengharapan kita. Jadi, ketika hati kita mulai takut, jangan hanya melihat besarnya masalah kita. Pandanglah kepada Allah yang jauh lebih besar daripada masalah kita. Dan ketika iman kita terasa lemah, pandanglah kepada Kristus, Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita.

 

Refleksi
Bacalah Roma 6:15-23 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 51-52