TIDAK ADA PERSAINGAN DALAM PELAYANAN INJIL
LUKAS 8-9
Dalam pelayanan Injil, tidak ada tempat bagi persaingan atau sikap mementingkan kelompok sendiri.
Murid-murid Yesus sedang memperdebatkan siapa di antara mereka yang terbesar. Namun, Yesus mengajarkan bahwa dalam Kerajaan-Nya, orang yang paling kecil di antara mereka justru adalah yang terbesar. Di tengah situasi itu, Yohanes menyampaikan sebuah keluhan: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." (Luk. 9:49–50).
Yohanes merasa terganggu karena ada seseorang di luar kelompok dua belas murid yang melakukan pelayanan dengan kuasa Allah. Namun, sebenarnya kita juga tidak jauh berbeda dari Yohanes. Mudah bagi kita untuk merasa bangga terhadap pelayanan sendiri, membandingkan diri dengan orang lain, bahkan merasa iri ketika Tuhan memakai orang lain dengan cara yang berbeda. Seandainya kita berada di sana, mungkin kita pun akan bereaksi seperti para murid.
Peristiwa ini bukan hanya menyingkapkan isi hati Yohanes, tetapi juga memperlihatkan keadaan hati kita. Jika kita memperhatikan kehidupan dan budaya gereja masa kini, kita akan menemukan begitu banyak perpecahan, persaingan, dan sikap mementingkan kelompok sendiri. Padahal, Tuhan tidak menghendaki anggota-anggota keluarga-Nya saling bersaing atau merasa terancam oleh keberhasilan satu sama lain.
Bagian-bagian yang berbeda dalam keluarga Allah seharusnya tidak saling iri ketika Injil menghasilkan buah melalui pelayanan orang lain. Kita perlu mengingat bahwa sesama orang percaya bukanlah musuh yang harus kita takuti atau lawan yang harus kita kalahkan. Kita memiliki satu musuh yang sama, yaitu Iblis, yang berusaha menghancurkan dan menyesatkan umat Allah. Karena itu, kita perlu berpegang pada perkataan Yesus: "Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." Kita juga harus mengingat bahwa setiap buah yang dihasilkan dalam pelayanan pada akhirnya merupakan karya anugerah Allah.
Allah sendirilah yang memilih siapa yang akan dipakai-Nya. Dialah yang menentukan di mana dan melalui siapa kuasa-Nya akan dinyatakan. Dialah yang membangkitkan kerinduan dalam hati seseorang untuk mendengar dan menanggapi firman-Nya. Dialah yang memberikan karunia untuk melayani dan memperlengkapi setiap orang yang dipanggil-Nya. Ketika Dia mengutus kita, Dia tidak membiarkan kita melayani dengan kekuatan sendiri, tetapi menyertai dan menopang kita dengan anugerah-Nya. Dia menjanjikan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan kehendak-Nya.
Maka, seharusnya kita bersukacita ketika melihat pelayanan Injil menghasilkan buah, sekalipun buah itu muncul melalui pelayanan orang lain dan bukan melalui pelayanan kita sendiri. Kita juga perlu berdoa agar setiap kali firman Tuhan dibacakan dan diberitakan, firman itu menghasilkan buah, siapa pun yang menyampaikannya. Sebab, kita tahu bahwa buah pelayanan bukanlah bukti kehebatan manusia, melainkan tanda bahwa Allah sedang bekerja melalui anugerah-Nya yang mengampuni, mengubahkan, dan membebaskan.
Pada akhirnya, pelayanan Injil tidak berpusat pada siapa yang paling besar, paling berhasil, atau paling dikenal. Pelayanan Injil berpusat pada Kristus, yang oleh anugerah-Nya memanggil, menyelamatkan, dan memakai umat-Nya untuk memberitakan kabar baik.
Refleksi
Bacalah Mazmur 34:1-4 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 8-9