KEKUATAN DI TENGAH PERTENTANGAN
NEHEMIA 4–7

 

Saat Anda mengerjakan pekerjaan Tuhan, pertahanan terbaik menghadapi pertentangan adalah doa.

 

Itu adalah masa yang penuh sukacita. Allah membawa umat-Nya kembali ke Yerusalem dan memulihkan hubungan mereka dengan-Nya. Mereka mulai membangun kembali tembok kota, sebuah kemenangan besar bagi Tuhan dan awal yang baru bagi umat-Nya. Namun, setiap kali Tuhan bekerja, perlawanan dan pertentangan selalu muncul. Sanbalat dan Tobia, orang Amon, mengejek dan merendahkan umat Allah saat mereka membangun tembok. Mereka berusaha melemahkan semangat umat Tuhan melalui hinaan, ancaman, dan intimidasi.

 

Demikian juga dalam kehidupan orang percaya. Ketika kita hidup setia kepada Tuhan, melakukan yang benar, dan berjalan dalam kehendak-Nya, tidak jarang kita menghadapi penolakan, ejekan, tekanan, bahkan kelelahan hati. Ketika Anda dihina karena iman Anda, ditertawakan karena melakukan yang benar, atau diserang karena sikap hidup yang sesuai kehendak Tuhan, bagaimana respons Anda?
Apakah Anda tenggelam dalam kecewa?
Apakah Anda menyerah dari panggilanmu?
Apakah Anda membalas dengan kemarahan?
Atau Anda datang kepada Tuhan dalam doa?

 

Tidak ada pertahanan yang lebih kuat terhadap perlawanan dan pertentangan dalam pekerjaan Tuhan selain doa. Itulah yang dilakukan Nehemia: “Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.” (Neh. 4:4)

 

Nehemia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia membawa pergumulannya kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan sanggup membela umat-Nya. Bagian ini mengajarkan bahwa umat Tuhan dipanggil untuk menyerahkan pergumulan mereka kepada Tuhan, bukan hidup dalam kepahitan, ketakutan, atau keputusasaan.

 

Sering kali kita ingin mempertahankan diri dengan kekuatan sendiri, membalas perlakuan orang lain, atau berhenti ketika keadaan menjadi sulit. Namun Tuhan memanggil kita untuk tetap setia, berani, dan berharap kepada-Nya. Kekuatan untuk bertahan dalam pekerjaan Tuhan tidak berasal dari diri kita sendiri, tetapi dari anugerah Tuhan yang menopang kita setiap hari.

 

Injil menunjukkan bahwa Yesus Kristus sendiri juga mengalami hinaan, penolakan, dan penderitaan ketika menjalankan kehendak Bapa. Ia datang membawa keselamatan, tetapi banyak orang menolak-Nya. Namun Yesus tidak membalas  kebencian. Dengan sempurna Ia tetap taat sampai mati di kayu salib demi menyelamatkan orang berdosa. Melalui salib dan kebangkitan Kristus, orang percaya memiliki pengharapan yang teguh di tengah pertentangan. Yesus bukan hanya teladan dalam penderitaan, tetapi juga Juruselamat yang memberi kekuatan bagi umat-Nya untuk tetap setia sampai akhir.

 

Di dalam Kristus, kita tidak berjalan sendirian. Roh Kudus menolong kita untuk tetap percaya ketika hati lemah, tetap mengasihi ketika disakiti, dan tetap setia ketika tekanan datang. Tuhan sanggup melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan. Ia menguatkan yang lemah, menghibur yang takut, dan memelihara umat-Nya dengan kasih karunia-Nya.

 

Karena itu, sebesar apa pun tekanan dan pertentangan yang kita hadapi, kemuliaan dan kemenangan Tuhan jauh lebih besar. Ketika menghadapi perlawanan dalam hidup, pekerjaan, pelayanan, dan perjalanan iman Anda, datanglah kepada Tuhan dengan iman dan pengharapan. Kristus adalah tempat perlindungan, pembela, dan sumber kekuatan kita.

 

Refleksi
Bacalah Efesus 6:10–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4-7