SUKACITA SEJATI
HABAKUK 1-3
Manusia diciptakan untuk mengalami sukacita; itulah sebabnya kita selalu mencarinya.
Pertimbangkan beberapa perkataan terakhir yang Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh. 15:11). Yesus sebentar lagi akan meninggalkan sahabat-sahabat-Nya dan naik kepada Bapa-Nya, tetapi Ia ingin meninggalkan mereka dengan sukacita.
Allah menciptakan manusia untuk mengalami sukacita. Ia menciptakan kita supaya kita dapat menikmati sukacita dalam mengenal, mengasihi, dan melayani-Nya. Ia juga merancang kita untuk menikmati keindahan dunia yang telah diciptakan-Nya. Ia menciptakan kita untuk mengalami sukacita dalam hubungan yang penuh kasih satu dengan yang lain. Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, tidak ada kesedihan atau dukacita di taman Eden, yang ada hanyalah sukacita.
Ketika manusia jatuh ke dalam dosa di taman Eden, manusia terus-menerus mencari sukacita. Kita semua merindukannya dan mencarinya setiap hari. Ada di antara kita yang menggantungkan sukacita pada pernikahan. Ada yang mencari sukacita melalui anak-anak. Ada yang berpikir bahwa karier akan memberikan sukacita yang dicari. Ada juga yang berpikir bahwa memiliki banyak harta akan membuat kita bersukacita. Sebagian orang menganggap kenikmatan seksual sebagai bentuk sukacita yang tertinggi. Yang lain berpikir bahwa pengetahuan teologi dan pemahaman Alkitab akan memberikan sukacita. Ada juga yang mencari sukacita melalui keberhasilan dalam pelayanan.
Kita patut bersyukur dan menikmati semua hal tersebut sebagai pemberian Tuhan, tetapi semua itu tidak boleh menjadi sumber sukacita kita. Masing-masing hal tersebut pada akhirnya dapat mengecewakan kita dengan berbagai cara. Ketika kita mencari sukacita dari hal-hal tersebut, sukacita yang kita dapatkan selalu bersifat sementara.
Kitab kecil Habakuk berbicara tentang menantikan dan mempercayai Tuhan, bahkan ketika kita kesulitan dengan apa yang sedang Ia kerjakan. Kitab ini diakhiri dengan salah satu pernyataan yang paling jelas dalam seluruh Kitab Suci tentang di mana sukacita yang sejati, kokoh, dan bertahan selamanya dapat ditemukan: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. (Hab. 3:17-19).
Perhatikan gambaran yang digunakan dalam bagian ini. Jika Anda hidup dalam budaya agraris, tidak ada hasil panen yang bisa dituai dan tidak ada ternak di kandang berarti Anda sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit. Namun, Habakuk menulis bahwa ia tetap memiliki alasan untuk bersukacita, karena Allah adalah sumber sukacitanya.
Kehadiran Tuhan, kuasa-Nya, janji-janji-Nya, dan kasih setia-Nya dalam perjanjian memberikan Habakuk alasan untuk bersukacita dalam keadaan apa pun. Sukacita yang tertuju kepada Tuhan adalah satu-satunya sukacita yang dapat bertahan selamanya.
Perhatikan juga catatan di bagian akhir. Nyanyian sukacita Habakuk sebenarnya adalah sebuah lirik yang memang dimaksudkan untuk dinyanyikan. Jadi, hari ini, pergilah dan nyanyikan sukacita itu karena Allah ada, dan oleh kasih karunia-Nya, Ia adalah Bapamu untuk selama-lamanya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 16:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3