DI MANA SUKACITA KITA?
LUKAS 10-11
Hal-hal yang membuatmu bersukacita menunjukkan apa yang sebenarnya menguasai dan mengarahkan hatimu.
Ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Tanpa disadari, sukacita dalam pelayanan dapat bergeser dari mengagumi Tuhan menjadi mengagumi diri sendiri. Kita bisa begitu terpukau karena Tuhan memakai kita, sampai akhirnya perhatian kita lebih tertuju pada keberhasilan dan kemampuan diri sendiri daripada kepada Tuhan yang mengerjakan semuanya. Kita mungkin sedang menceritakan pekerjaan Tuhan, tetapi diam-diam menjadikan diri sendiri sebagai tokoh utamanya. Inilah sebabnya kita perlu memeriksa hati. Bukan hanya apa yang kita kerjakan bagi Tuhan, melainkan juga apa yang sebenarnya membuat kita bersukacita.
Sukacita tidak pernah netral secara moral. Sukacita dalam pelayanan tidak pernah netral. Sukacita dalam pernikahan, mengasuh anak, persahabatan, maupun kehidupan bersama dalam komunitas juga tidak pernah netral. Sukacita dapat menipu kita. Sukacita dapat menjadi bentuk penyembahan berhala atau pemberontakan. Sukacita juga dapat menjadi tindakan mencuri kemuliaan, ketika kita mengambil penghargaan atas sesuatu yang sebenarnya hanya dapat dilakukan dan dihasilkan oleh Tuhan. Karena itu, memeriksa sukacita kita selalu membawa manfaat secara rohani. Apa yang membangkitkan sukacitamu menunjukkan apa yang sebenarnya dicintai oleh hatimu.
Yesus berbicara tentang sukacita dalam Lukas 10: “Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (Luk. 10:17–20).
Yesus telah mengutus para pengikut-Nya untuk melayani dalam nama-Nya. Ketika mereka kembali, mereka begitu bersemangat dan dipenuhi sukacita. Mereka mulai menceritakan bagaimana mereka telah diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat. Di tengah cerita-cerita tentang pengalaman pelayanan itu, Yesus seolah berkata, “Ya, Aku telah memberimu kuasa dan otoritas yang luar biasa, tetapi bukan itu yang seharusnya menjadi sumber sukacitamu. Kuasa dalam pelayanan bukanlah sumber sukacita.” Keberhasilan dan kuasa dalam pelayanan tidak seharusnya menjadi sumber sukacita kita yang terutama.
Setiap orang yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam pelayanan atas nama Allah perlu mendengarkan perkataan Yesus ini dengan sungguh-sungguh. Berhati-hatilah terhadap apa yang membuatmu bersukacita ketika pelayananmu berhasil.
Lalu, apakah yang seharusnya menjadi sumber sukacita kita? Yesus menjawabnya dengan sangat jelas: "Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Kita tentu boleh bersyukur dan merayakan karunia-karunia yang Allah berikan serta berbagai karya ajaib yang Ia kerjakan. Namun, kita tidak boleh berhenti pada semua itu. Kita harus terus mengingat bahwa Allah telah memilih kita untuk menjadi penerima anugerah-Nya yang menebus dan menyelamatkan.
Sukacita terbesar kita bukanlah karena Allah memakai kita untuk melakukan hal-hal besar, melainkan karena Allah, melalui Yesus Kristus, telah menyelamatkan kita oleh anugerah-Nya. Semakin anugerah keselamatan itu memenuhi dan menguasai sukacita kita, semakin sedikit kita mencari alasan-alasan lain untuk bersukacita. Kiranya sukacita karena karya penebusan Tuhan benar-benar memuaskan hati kita.
Refleksi
Bacalah Filipi 4:4-7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 10-11