PERINGATAN DARI ALLAH
2 RAJA-RAJA 9–11

 

Seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih memperingatkan anak-anaknya tentang bahaya menyeberang jalan, demikian pula Allah, melalui firman-Nya, terus-menerus memperingatkan anak-anak-Nya akan bahaya melanggar batas yang telah Ia tetapkan dan melakukan apa yang Ia nyatakan sebagai dosa.

 

Kita tahu bahwa anak-anak yang masih kecil, mereka belum mampu memahami berbagai bahaya di sekitar mereka. Sebagai orang tua, Anda juga tahu untuk terus memberikan peringatan kepada mereka: tentang tangga, kompor, stop kontak listrik, mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak, sudut-sudut tajam, hingga bahaya melompat dari tempat yang tinggi. Semua peringatan itu diberikan bukan untuk membatasi, melainkan karena kasih, agar mereka dapat bertumbuh, berkembang, dan hidup dengan aman.

 

Demikian juga, peringatan-peringatan dari Allah adalah wujud kasih-Nya kepada kita. Jika kita memperhatikannya, peringatan itu akan menjadi perlindungan rohani. Seharusnya, peringatan dalam Alkitab bekerja seperti alarm yang membangunkan kita, menarik perhatian kita, lalu menuntun kita untuk mengubah cara berpikir dan bertindak. Namun, peringatan Allah tidak selalu disampaikan secara langsung dalam bentuk larangan atau konsekuensi yang jelas. Kadang Allah menyampaikan peringatan-Nya melalui kisah nyata, melalui gambaran yang keras, agar kita melihat betapa seriusnya dosa.

 

Jika kita tidak memahami kerinduan Allah untuk menjaga anak-anak-Nya dari bahaya rohani, menjaga hati mereka agar tidak menyimpang, agar tidak memandang yang jahat sebagai sesuatu yang baik, dan agar tetap menjadi milik-Nya, kita mungkin akan mempertanyakan mengapa bagian seperti 2 Raja-raja 9:30–37 dicatat dalam Alkitab. Kisah ini memang kelam dan tidak mudah untuk dibaca. Namun, di dalamnya terdapat cerita tentang kematian Izebel, seorang ratu yang memberontak dan sangat jahat. Nubuat Allah melalui Elia digenapi: kehancuran Izebel menjadi gambaran bahwa dosa tidak pernah berakhir indah. Apa yang tampak memikat pada akhirnya membawa kebinasaan.

 

“Sampailah Yehu ke Yizreel. Ketika Izebel mendengar itu, ia mencalak matanya, dihiasinyalah kepalanya, lalu ia menjenguk dari jendela. Pada waktu Yehu masuk pintu gerbang, berserulah Izebel: 'Bagaimana, selamatkah Zimri, pembunuh tuannya itu?' Yehu mengangkat kepalanya melihat ke jendela itu dan berkata: 'Siapa yang di pihakku? Siapa?' Dan ketika dua tiga orang pegawai istana menjenguk kepadanya, ia berseru: 'Jatuhkanlah dia!' Mereka menjatuhkan dia, sehingga darahnya memercik ke dinding dan ke kuda; mayatnyapun terinjak-injak. Yehu masuk ke dalam, lalu makan dan minum. Kemudian ia berkata: 'Baiklah urus mayat orang yang terkutuk itu dan kuburkanlah dia, sebab ia memang anak raja.' Mereka pergi untuk menguburkannya, tetapi mereka tidak menjumpai mayatnya, hanya kepala dan kedua kaki dan kedua telapak tangannya. Mereka kembali memberitahukannya kepada Yehu, lalu ia berkata: 'Memang begitulah firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan hamba-Nya, Elia, orang Tisbe itu: Di kebun di luar Yizreel akan dimakan anjing daging Izebel; maka mayat Izebel akan terhampar di kebun di luar Yizreel seperti pupuk di ladang, sehingga tidak ada orang yang dapat berkata: Inilah Izebel.'” (2 Raj. 9:30–37).

 

Mengapa bagian ini penting untuk direnungkan? Karena sering kali dosa tidak tampak berbahaya di mata kita. Sering kali dosa datang dengan wajah yang menarik, menjanjikan kenikmatan, kuasa, kenyamanan, atau kebebasan. Kita bahkan bisa meyakinkan diri bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja pada akhirnya.

 

Tetapi Allah dalam kasih-Nya membuka mata kita melalui firman-Nya. Ia memperlihatkan akhir dosa supaya kita tidak berjalan ke arahnya. Ia menunjukkan penghakiman supaya kita belajar takut akan Dia dan menjauhi jalan yang membinasakan. Dalam Injil, kita melihat kasih Allah paling jelas. Hukuman yang seharusnya menimpa kita karena dosa telah ditanggung oleh Kristus di kayu salib. Yesus menerima murka Allah supaya kita menerima belas kasihan Allah. Karena itu, setiap peringatan firman bukanlah tanda bahwa Allah membenci kita, melainkan tanda bahwa Ia sedang memanggil kita pulang.

 

Hari ini, jika firman Tuhan menegur dosa dalam hidup Anda, jangan keras hati. Itu adalah kasih Bapa yang sedang menyelamatkan Anda. Peringatan Allah bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membawa kita kepada Kristus, satu-satunya keselamatan dan hidup yang sejati.

 

Refleksi
Bacalah Yakobus 1:14–15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 9-11