APA YANG MENGENDALIKAN PIKIRAN ANDA?
HAKIM-HAKIM 13–15
Jika Anda bisa menonton rekaman hidup Anda selama enam minggu terakhir, pengaruh apa yang paling membentuk tindakan, reaksi, dan responsmu?
Seiring waktu, manusia akan bertumbuh dan menghadapi keputusan moral dan rohani yang jauh lebih besar. Dari cara manusia berpikir akan lahir kesimpulan moral. Dari kesimpulan itu muncul keinginan-keinginan yang berbobot moral. Dari keinginan itu lahir pilihan. Pilihan membentuk gaya hidup. Dan gaya hidup membawa berkat atau konsekuensi moral. Itulah siklus kehidupan setiap manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.
Dalam Hakim-Hakim 14:1–3 dicatat: “Simson pergi ke Timna dan di sana ia melihat seorang perempuan dari antara anak-anak perempuan orang Filistin. Setelah ia pulang, berkatalah ia kepada ayah dan ibunya: ‘Di Timna aku melihat seorang perempuan dari antara anak-anak perempuan orang Filistin; sekarang, ambillah dia menjadi isteriku.’ Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: ‘Tidakkah ada di antara anak-anak perempuan saudara-saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil seorang perempuan dari antara orang Filistin yang tidak bersunat itu?’ Tetapi Simson berkata kepada ayahnya: ‘Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.’”
Simson menginginkan seorang istri. Keinginan untuk menikah itu sendiri tidak salah. Tuhan memang merancang manusia sebagai makhluk sosial dan menetapkan pernikahan untuk kebaikan kita. Namun perempuan yang diinginkan Simson adalah orang Filistin—sesuatu yang secara jelas telah dilarang Tuhan. Orang tuanya menegur karena mereka tahu pemikiran Simson salah dan bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tetapi respons Simson adalah: “sebab dia kusukai” (secara harfiah: “dia benar di mataku”). Di sinilah inti persoalannya: kemampuan kita untuk berpikir selalu dipengaruhi oleh apa yang menguasai hati kita.
Pertanyaan besar dalam hidup ini adalah: Apakah keinginan dan pilihan kita dikendalikan oleh apa yang kita anggap benar, atau oleh apa yang Tuhan katakan benar?
Medan pertempuran rohani sering kali bukan pertama-tama di luar diri kita, tetapi di dalam pikiran dan hati kita. Di sanalah terjadi pergumulan antara kehendak Tuhan dan kehendak kita. Kita tidak cukup kuat untuk menang sendiri. Kita membutuhkan anugerah Tuhan yang menyelamatkan dan memelihara kita, anugerah yang menolong kita berpikir, menginginkan, dan memilih sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu hanya di dalam Kristus hati kita yang bengkok dapat diluruskan, dan keinginan kita yang salah dapat dipulihkan.
Refleksi
Bacalah 1 Tesalonika 4:3–5 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 13-15