KEBERHASILAN UNTUK KEMULIAAN TUHAN
Hakim-Hakim 16–18

 

Keberhasilan dalam hidup dan pelayanan bukanlah tanda bahwa Allah menyetujui karakter kita, melainkan pernyataan tentang karakter-Nya.

 

Allah menunjukkan kuasa-Nya demi umat-Nya. Ia setia menuntun, memelihara, dan melindungi anak-anak-Nya. Dengan otoritas-Nya yang berdaulat, Ia menggenapi janji-janji-Nya tepat pada waktu dan tempat yang Ia tentukan. Tidak ada siapa pun dan apa pun yang dapat menghalangi rencana-Nya yang kudus dan bijaksana.

 

Untuk menggenapi maksud-Nya, Allah membangkitkan pemimpin-pemimpin manusia. Ia memberi mereka hikmat, kemampuan, bahkan kuasa yang melampaui kekuatan alami mereka. Ia memberikan otoritas dan keberhasilan. Ia memakai manusia, Allah sebagai alat untuk mengerjakan tujuan dan rencana-Nya.

 

Namun ada hal penting yang perlu kita pahami tentang orang-orang yang Allah pakai. Pertama, dalam kedaulatan-Nya, Allah memakai siapa pun yang Ia kehendaki. Ketika kita membaca Alkitab, sering kali kita terkejut melihat siapa yang dipilih-Nya. Simson adalah salah satu contoh yang mengejutkan. Allah memberinya kekuatan luar biasa dan memakainya sebagai pembebas bagi Israel. Tetapi secara pribadi, Simson berantakan. Ia sering melanggar perintah Tuhan dan membuat pilihan moral yang buruk. Hidupnya lebih dikendalikan oleh hawa nafsu daripada oleh kehendak Allah. Ini menunjukkan kebenaran penting bahwa orang yang dipakai Tuhan tidak selalu hidup benar, tetapi Tuhan tetap setia pada rencana-Nya.

 

Kedua, fakta bahwa Allah memberi Simson kuasa dan keberhasilan tidak berarti Allah menyetujui gaya hidup atau pilihan moralnya. Apa yang dinyatakan melalui kemenangan-kemenangan Simson bukanlah kehebatan Simson, melainkan kesetiaan dan karakter Allah terhadap umat yang Ia kasihi. Karena itu, keberhasilan dalam keluarga, karier, pelayanan, atau bidang apa pun tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa Tuhan menyetujui cara kita hidup, keputusan moral kita, cara kita menggunakan uang, kehidupan rohani pribadi kita, atau sikap kita dalam relasi. Allah memberi keberhasilan bukan untuk memamerkan kemuliaan kita, tetapi untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Ia memberi kepada siapa yang Ia kehendaki. Ia meninggikan siapa yang Ia kehendaki. Ia memperlengkapi siapa yang Ia kehendaki—bukan supaya mereka menerima pujian, tetapi supaya umat-Nya memuliakan Dia.

 

Namun keberhasilan juga membawa bahaya: kita bisa menjadi sombong. Kita mulai berpikir bahwa kita hebat, padahal tidak. Secara rohani, keberhasilan seringkali lebih berbahaya daripada kegagalan. Hanya ada satu Pribadi yang sempurna dalam segala hal dan benar-benar menerima perkenanan penuh dari Allah, yaitu Yesus Kristus. Seperti tertulis dalam Matius 3:17: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Semua manusia lain penuh kelemahan dan sangat bergantung pada anugerah Allah—anugerah yang menyelamatkan, mengampuni, dan memelihara.

 

Inilah Injil bagi kita yaitu bukan keberhasilan kita yang menyelamatkan kita, tetapi Kristus yang sempurna menggantikan kita. Bukan kekuatan kita yang membuat kita layak, tetapi anugerah Tuhan yang melayakkan dan menopang kita setiap hari. Karena itu, jangan bangga atas keberhasilanmu—arahkah semua itu kembali kepada kemuliaan Tuhan.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 127:1–5 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 16-18