HIDUP BAGI KEMULIAAN SIAPA?
NEHEMIA 12–13
Hidup yang dijalani dengan baik adalah hidup yang dipersembahkan bagi kemuliaan dan Kerajaan Allah.
Ada orang yang menurut standar dunia terlihat sangat berhasil. Ia dikagumi banyak orang. Ia memiliki kekayaan, nama besar, kuasa, dan kedudukan. Dari luar, hidupnya tampak sempurna. Semua yang diinginkannya seolah berhasil diraih. Namun, tanpa disadari, hatinya terlalu melekat pada citra diri dan keinginan untuk mengendalikan segalanya. Dalam setiap kesempatan, ia ingin menjadi pusat perhatian dan memegang kendali.
Di balik semua itu, hidupnya perlahan kehilangan arah. Semua yang telah dibangun mulai runtuh, bahkan imannya pun akhirnya ditinggalkan. Ia salah memahami tujuan hidup. Ia mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi dalam kenyataannya Tuhan bukanlah pusat hidupnya. Kemuliaan yang dikejarnya hanyalah kemuliaannya sendiri, dan kerajaan yang dibangunnya hanyalah kerajaannya sendiri. Apa yang tampak seperti keberhasilan ternyata menyimpan kegagalan besar secara pribadi, moral, relasi, dan rohani.
Sekarang, coba tanya pada hati Anda: untuk apa Anda hidup hari ini? Apa yang paling memberimu sukacita? Apa yang paling bisa membuatmu hancur? Bagaimana Anda mendefinisikan keberhasilan? Apa yang membuatmu bangun setiap pagi dan mendorongmu menjalani hari? Apa tujuan besar di balik setiap keputusan yang Anda ambil? Apakah kemuliaan Allah, tujuan-Nya, dan Kerajaan-Nya benar-benar membentuk cara Anda hidup, bekerja, berelasi, dan menggunakan waktumu? Apakah hidupmu mencerminkan dua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan sesama? Sebenarnya, untuk apa Anda hidup?
Doa terakhir Nehemia menunjukkan semangat hidupnya bagi Tuhan: “Kutahirkan mereka dari segala sesuatu yang asing dan kutetapkan tugas-tugas untuk para imam dan orang-orang Lewi, masing-masing dalam bidang pekerjaannya, pula kutetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api pada waktu-waktu tertentu dan untuk hasil-hasil yang pertama. Ya Allahku, ingatlah kepadaku, demi kesejahteraanku!” (Neh. 13:30–31). Nehemia mendedikasikan hidupnya untuk satu hal utama yaitu penyembahan kepada Allah. Umat Allah sebelumnya meninggalkan penyembahan kepada Allah, dan itulah yang membawa mereka kepada kehancuran. Mereka mengikuti ilah-ilah bangsa lain, dan itu berujung pada kehinaan dan kehancuran. Namun dalam belas kasihan-Nya, Allah memulihkan mereka dan membawa mereka kembali pulang untuk membangun kembali bait-Nya. Di sanalah mereka membangun kembali Bait Allah.
Nehemia pun berjuang membersihkan pengaruh-pengaruh rohani yang asing, menata kembali pelayanan imam, dan memastikan segala sesuatu tersedia agar penyembahan kepada Tuhan terus berlangsung. Semua yang ia lakukan bukan terutama demi dirinya sendiri atau pengakuan manusia, tetapi demi Tuhan yang ia kasihi.
Inilah gambaran hidup yang dipulihkan oleh Injil: hidup yang tidak lagi berpusat pada diri sendiri, tetapi berpusat pada kemuliaan Kristus. Melalui dosa, manusia cenderung membangun “kerajaan kecil” bagi dirinya sendiri. Kita mengejar nama, kenyamanan, penerimaan, dan keberhasilan dunia. Tetapi Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari hidup yang sia-sia dan mengarahkan hati kita kembali kepada Allah. Di kayu salib, Kristus menyerahkan diri-Nya supaya kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan bagi Dia yang telah mati dan bangkit untuk kita. Hanya ketika hidup dipersembahkan bagi Kristus, kita menemukan tujuan, sukacita, dan makna yang sejati.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah seberapa besar pencapaian kita di dunia ini, tetapi apakah hidup kita memuliakan Tuhan. Di akhir hidup Anda nanti, apakah Anda ingin Tuhan mengingat hidupmu sebagai persembahan bagi-Nya, atau justru berharap Ia melupakan cara hidupmu? Hidup yang dijalani dengan baik adalah hidup yang dipakai untuk kemuliaan dan kerajaan Allah. Apakah itu yang sedang Anda hidupi hari ini?
Refleksi
Bacalah Matius 6:31–33 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12-13