TAKUT AKAN TUHAN MENGALAHKAN SEGALA KETAKUTAN
LUKAS 12-13
Hanya ketika kita memiliki rasa takut yang benar kepada Tuhan, kita dapat menghadapi segala ketakutan lain dalam hidup.
Dalam 1 Samuel 17 dicatat pasukan Israel telah berkumpul di Lembah Tarbantin untuk menghadapi bangsa Filistin. Tuhan telah berjanji menyertai mereka dengan kuasa-Nya yang besar untuk mengalahkan bangsa-bangsa asing dan memberikan negeri yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka. Mereka adalah pasukan milik Allah Yang Mahatinggi, Tuhan semesta alam. Tidak ada kuasa atau pemerintahan yang mampu menandingi-Nya.
Namun, pada hari pertama pertempuran, seorang raksasa bernama Goliat maju dan menantang pasukan Israel. Mendengar tantangannya, para prajurit Israel justru ketakutan dan mundur ke kemah mereka. Keadaan ini berlangsung selama empat puluh hari. Betapa ironisnya! Umat yang memiliki Allah Yang Mahakuasa justru gemetar menghadapi seorang manusia.
Kemudian muncullah Daud. Ia bukan seorang prajurit terlatih, melainkan seorang gembala muda yang datang sebagai sukarelawan untuk menghadapi Goliat. Mengapa Daud tidak gentar menghadapi seorang petarung yang begitu besar dan berpengalaman? Jawabannya sederhana: takut akan Allah membebaskan Daud dari rasa takut kepada Goliat.
Bagaimana dengan kita? Apakah saat ini ada sesuatu yang membuat Anda takut? Apakah ketakutan itu memengaruhi keputusan, tindakan, dan cara Anda merespons keadaan? Apakah rasa takut membuat Anda enggan melakukan sesuatu yang benar? Apakah kekhawatiran mengganggu tidur dan memenuhi pikiran Anda sepanjang hari?
Jika demikian, perhatikanlah perkataan Yesus: “Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Luk. 12:4–7).
Perhatikan bagaimana Yesus memulai pengajaran yang begitu menguatkan ini. Ia menyebut para pengikut-Nya sebagai sahabat. Pernahkah Anda merenungkan betapa luar biasanya hal tersebut? Bayangkan, kita disebut sebagai sahabat oleh Raja di atas segala raja! Jika Allah yang Mahakuasa menyebut kita sahabat-Nya, mengapa kita harus hidup seolah-olah segala sesuatu bergantung pada kekuatan kita sendiri? Jika Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, adakah sesuatu yang terjadi di luar pengetahuan dan kuasa-Nya?
Namun, perkataan Yesus tidak berhenti pada kekuasaan Allah. Ia juga mengarahkan perhatian mereka kepada kasih dan pemeliharaan Bapa. Allah memperhatikan burung-burung pipit yang tampak kecil dan tidak berharga di mata manusia. Tidak seekor pun dilupakan-Nya. Terlebih lagi, Allah mengenal anak-anak-Nya dengan begitu dekat, bahkan sampai mengetahui jumlah rambut di kepala mereka. Betapa indahnya kebenaran ini! Allah yang berkuasa atas kekekalan adalah Allah yang sama yang memperhatikan hal-hal terkecil dalam kehidupan anak-anak-Nya.
Karena itu, keberanian orang percaya bukanlah keberanian yang bersumber dari keyakinan bahwa hidup akan selalu berjalan baik. Keberanian kita lahir dari pengenalan akan Allah yang kudus, berdaulat, dan penuh kasih, yang telah menyatakan anugerah-Nya melalui Kristus.
Refleksi
Bacalah Amsal 1:1-7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 12-13