ALLAH MEMBERI KEKUATAN DALAM PANGGILAN INI
YEHEZKIEL 1–4
Tuhan selalu memperlengkapi umat-Nya untuk melakukan apa yang Dia panggil untuk mereka kerjakan.
Ada kalanya kita merasa bangga karena memiliki tenaga yang seolah tidak ada habisnya dan mampu menyelesaikan banyak hal dengan cepat. Namun, ketika kelemahan datang dan kita mengalami keadaan yang belum pernah kita alami sebelumnya, kita mulai menyadari bahwa kemampuan kita ternyata sangat terbatas. Ketika kita menyadari bahwa kelemahan itu tidak akan segera berlalu, mungkin muncul pertanyaan, “Bagaimana saya dapat melakukan apa yang Tuhan panggil untuk saya lakukan?”
Mungkin justru pada saat kita merasa sedang memberikan pengaruh terbesar bagi pekerjaan Injil, kita mendapati diri kita berada dalam keadaan yang paling lemah. Pada saat seperti itu, kita perlu menghadapi sebuah kebenaran: Allah tidak pernah memanggil kita karena kita cukup kuat dan mampu. Allah memanggil kita karena Dia kuat dan Dia sendiri akan mencukupkan apa yang kita perlukan untuk melakukan panggilan-Nya.
Setiap perintah dan panggilan dari Tuhan selalu disertai dengan kasih karunia yang memperlengkapi. Ketika Tuhan mengutus kita, Ia tidak mengutus kita sendirian. Apa yang Dia minta untuk kita lakukan, Dia juga yang memampukan kita untuk melakukannya. Allah tidak pernah memberikan panggilan kepada kita lalu meninggalkan kita untuk mengandalkan kekuatan sendiri. Karena itu, penting bagi kesehatan rohani kita untuk mengakui bahwa kita tidak memiliki kemampuan alami untuk menaati perintah Tuhan yang kudus. Kita juga tidak memiliki kemampuan yang cukup dari diri kita sendiri untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Kerajaan Allah.
Hal ini terlihat dalam kisah Gideon. Ketika Allah memanggil Gideon yang merasa takut untuk memimpin umat-Nya melawan orang Midian, Allah berkata: “Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: "TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani." (Hak. 6:12). Jelas bahwa Gideon bukanlah seseorang yang secara alami berani. Namun, Tuhan mengetahui apa yang akan Dia mampukan Gideon untuk lakukan.
Demikian juga ketika Tuhan memanggil Yehezkiel untuk menjalankan pelayanan yang sulit sebagai nabi-Nya. Yehezkiel harus menyampaikan pesan yang tidak ingin didengar oleh umat Tuhan. Tuhan mengetahui bahwa nabi-Nya akan menghadapi ancaman dan penolakan. Karena itu, pada bagian-bagian awal kitab Yehezkiel, kita menemukan banyak penguatan, peneguhan, dan jaminan dari Tuhan: “Tangan TUHAN meliputi aku.” (Yeh. 1:3). “Masuklah Roh ke dalam aku.” (Yeh. 2:2). “Tangan TUHAN meliputi aku.” (Yeh. 3:22). Dan ketika Allah berfirman kepadanya, “Aku akan membuat lidahmu melekat pada langit-langit mulutmu.” (Yeh. 3:27). Artinya, Tuhan meyakinkan Yehezkiel bahwa dia tidak akan dibiarkan menjalankan panggilannya seorang diri. Dia tidak akan dibiarkan hanya mengandalkan kemampuan dan sumber daya dirinya yang terbatas.
Karena itu, kesombongan dalam kehidupan rohani atau pelayanan merupakan bentuk pencurian kemuliaan. Ketika kita membanggakan kedewasaan rohani kita atau apa yang telah kita capai dalam pelayanan, kita sedang mengambil kemuliaan dari Dia yang memampukan kita menjadi seperti sekarang dan melakukan apa yang kita lakukan. Kita dapat hidup dan melayani dengan cara yang menyenangkan Tuhan hanya oleh kuasa kasih karunia-Nya.
Seperti Yehezkiel, kita tidak perlu takut untuk menerima panggilan Tuhan. Kita memang tidak memiliki apa yang diperlukan untuk melakukannya dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi Tuhan memilikinya, bahkan jauh lebih daripada yang kita perlukan. Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan pada waktu kita membutuhkannya. Ketika Tuhan mengutus anak-anak-Nya, Dia pergi bersama mereka. Ketika Tuhan memanggil anak-anak-Nya, Dia memampukan mereka.
Di sinilah kita perlu melihat kepada Injil. Panggilan Allah tidak pernah didasarkan pada kemampuan kita untuk menjadi cukup baik di hadapan-Nya. Karena itu, Allah melakukan bagi kita apa yang tidak mungkin kita lakukan bagi diri kita sendiri: Ia mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita. Kristus menjalani kehidupan yang sempurna, mati menggantikan orang berdosa, dan bangkit untuk memberikan kehidupan yang baru. Keselamatan kita sejak awal sampai akhir adalah pekerjaan kasih karunia Allah. Karena itu, pelayanan kita pun harus lahir dari kasih karunia yang sama.
Ini juga menolong kita memahami ketakutan dan kesombongan. Baik orang yang takut maupun orang yang sombong melakukan kesalahan yang sama: keduanya berfokus pada kekuatan diri sendiri, bukan pada kasih karunia Tuhan. Injil mengarahkan mata kita kepada Kristus. Kita memang lemah, tetapi Kristus kuat. Kita memang tidak cukup, tetapi kasih karunia-Nya cukup. Kita mungkin tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan, tetapi kita tahu siapa yang berjalan bersama kita.
Jadi, jangan biarkan kelemahan membuat kita berhenti menaati Tuhan. Dan jangan biarkan keberhasilan membuat kita mengambil kemuliaan bagi diri sendiri. Dalam kelemahan, bergantunglah kepada kasih karunia-Nya. Dalam pelayanan, kembalikanlah kemuliaan kepada-Nya. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa kuat kita yang menjadi dasar pengharapan kita, melainkan seberapa besar kasih karunia Allah yang memanggil, menyertai, dan memampukan kita.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 12:1–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 1-4