KESETIAAN TUHANLAH HARAPAN KITA
2 RAJA-RAJA 12–14
Pengharapan kita, baik dalam hidup maupun dalam kematian, tidak terletak pada kesetiaan kita, melainkan pada kesetiaan yang sempurna dari Juruselamat kita.
Mungkin ada momen saat Anda dan pasangan Anda ingin bepergian. Anda mungkin sudah membuat rencana, tetapi seketika berantakan karena pasangan Anda menerima telepon dari pekerjaannya. Panggilan itu terasa sangat lama, dan penundaan itu terasa seperti serangan pribadi, walaupun sebenarnya tidak demikian. Anda mondar-mandir di ruangan, berharap pasangan Anda itu tahu bahwa Anda tidak senang karena belum juga berangkat.
Ketika percakapan itu selesai, Anda bersikap dingin dan menjaga jarak. Tetapi oleh kasih karunia Allah, teguran Roh Kudus segera menyentuh hati Anda. Itu sangat merendahkan hati. Anda mengakui ketidaksabaran Anda, dan pasangan Anda dengan penuh kasih mengampuni Anda. Saat perjalanan dimulai, Injil kembali memenuhi pikiran Anda.
Inilah sebabnya pengharapan Anda tidak pernah terletak pada ketaatan Anda, kesetiaan Anda, hikmat Anda, atau kebenaran Anda sendiri. Selama Anda masih hidup di dunia ini, Anda tidak akan pernah memiliki catatan hidup yang sempurna di hadapan takhta Allah. Anda mungkin bukan pemberontak yang sengaja menolak Tuhan, tetapi Anda juga belum sepenuhnya bebas dari dosa. Semakin lama Anda berjalan bersama Tuhan, semakin jelas Anda melihat bahwa harapan Anda bukan pada kesetiaan Anda, tetapi pada kesetiaan Tuhan yang sempurna.
Salah satu tema besar dalam Perjanjian Lama adalah kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya yang kontras dengan ketidaksetiaan manusia. Kisah umat Allah dipenuhi dengan pola yang berulang: jatuh dalam dosa, bertobat, taat untuk sementara waktu, lalu kembali menyimpang, dan siklus itu terus terjadi. Mungkin kita ingin berseru, “Adakah seorang yang setia di Israel?” Jawabannya adalah, “Ada, yaitu TUHAN, Allah Israel, Dia saja satu-satunya yang setia.”
Hal ini terlihat jelas dalam 2 Raja-raja 13:22–23: “Hazael, raja Aram, menindas orang Israel sepanjang umur Yoahas. Tetapi TUHAN mengasihani serta menyayangi mereka, dan Ia berpaling kepada mereka oleh karena perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub, jadi Ia tidak mau memusnahkan mereka dan belum membuang mereka pada waktu itu dari hadapan-Nya.”
Sekalipun Israel memberontak dan hidup dalam penyembahan berhala, Allah tetap menahan musuh mereka. Ia melakukan itu bukan karena Israel layak menerima kebaikan-Nya atau karena mereka setia menjalankan hukum-Nya, justru sebaliknya. Seandainya hubungan mereka dengan Allah bergantung pada ketaatan mereka, pasti mereka sudah lama ditinggalkan. Namun Allah tetap berbelaskasihan, karena Ia setia dan Ia akan menggenapi janji perjanjian-Nya.
Demikian juga dengan kita. Keberadaan kita di hadapan Allah tidak didasarkan pada kebenaran kita, melainkan pada kebenaran Kristus yang sempurna. Ia telah memenuhi segala tuntutan dengan sempurna bagi kita, karena Ia tahu kita tidak akan pernah mampu melakukannya. Bahkan di dalam kisah 2 Raja-raja, di tengah masa kegelapan pemberontakan Israel, Injil kembali dinyatakan kepada kita: harapan kita dalam hidup dan mati terletak pada kesetiaan Juruselamat kita, bukan pada usaha kita sendiri.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 5:18–21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 12-14