BERSUKACITA BERSAMA PARA MALAIKAT

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud — supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. – Lukas 2:4-5

 

Tempat kelahiran Yesus memiliki sejarah Alkitab yang kaya jauh sebelum pernah dikunjungi oleh para malaikat. Betlehem adalah kota yang pernah diguncang oleh kisah kepulangan seorang perempuan bernama Naomi. Bersama suaminya dan dua anak lelakinya, Naomi pernah meninggalkan Betlehem karena kelaparan. Namun di tanah perantauan itu, ia kehilangan suaminya dan kedua anaknya. Setelah mengalami kehilangan yang begitu besar, Naomi kembali ke Betlehem dengan hati yang hancur, menyebut dirinya Mara—yang berarti pahit. Bersama dia ada Rut, seorang perempuan asing, yang kelak menjadi bagian dari silsilah Mesias (Mat. 1:6).

 

Allah sedang bekerja melalui kesedihan, kehilangan, dan ketidakberdayaan manusia untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.

 

Di padang-padang sekitar Betlehem pula, seorang anak gembala bernama Daud pernah menggembalakan domba-domba ayahnya. Di tempat itu, Nabi Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja pengganti Saul. Anak-anak Isai dipanggil satu per satu, tetapi tidak ada yang dipilih. Akhirnya Daud, yang sedang menjaga domba, dipanggil masuk. Dialah yang diurapi menjadi raja Israel (1Sam. 16:1–12).

 

Lalu, seribu tahun kemudian, seorang bernama Yusuf kembali ke tanah asal leluhurnya, Betlehem, untuk mendaftarkan diri dalam sensus bersama tunangannya, Maria yang sedang mengandung. Peristiwa yang tampak biasa dan administratif ini ternyata adalah momen penggenapan janji Allah yang telah lama dinantikan. Sekitar enam ratus tahun sebelumnya, Nabi Mikha telah menubuatkan: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala" (Mi. 5:1).

 

Sekali lagi di Betlehem, kemungkinan besar di ladang-ladang yang sama, tempat Daud pernah menggembalakan domba ayahnya—terjadi kegemparan ilahi. Langit dipenuhi oleh kehadiran para malaikat, dan bergema oleh nyanyian keselamatan (Luk. 2:8–14).

 

Saat kita memasuki masa Natal dan kembali mengunjungi kisah yang begitu akrab ini, kiranya hati kita kembali digerakkan oleh hadirat Allah dalam Yesus Kristus. Allah tidak datang melalui kemegahan, tetapi melalui palungan. Ia memakai yang kecil dan sederhana untuk menyatakan kemuliaan-Nya yang besar.

 

Sukacitalah bersama para malaikat dalam keselamatan Allah, karena melalui kelahiran Kristus, kita melihat bahwa Allah setia menepati janji-Nya. Ia sanggup memakai kehidupan yang tampak biasa—bahkan rapuh—untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya yang mulia.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 2:8-14 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 1-3; Lukas 21:20-38