MENGETAHUI DENGAN PASTI

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud — supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. – Lukas 2:1-5

 

Di zaman kita, orang sering berkata bahwa kebenaran itu relatif—cukup diyakini, tanpa perlu dipastikan. Budaya kita mengajarkan bahwa selama seseorang memiliki konsep atau gagasan, itu sudah cukup. Namun Injil menunjukkan sesuatu yang berbeda. Lukas tidak puas dengan keyakinan yang samar. Ia rindu agar dirinya sendiri dan orang lain mengetahui kebenaran dengan keyakinan yang teguh. Itulah sebabnya, kepastian menjadi bagian penting dari tujuan Lukas menulis Injilnya (Luk. 1:3–4).

 

Dalam kisah kelahiran Yesus, Lukas mencatat berbagai detail politik, sosial, geografis, dan historis yang sekilas tampak biasa saja. Namun semua itu bukan hiasan. Semua detail itu menegaskan bahwa karya keselamatan Allah terjadi dalam sejarah nyata, bukan dalam dongeng atau mitos. Yusuf dan Maria sungguh-sungguh berjalan dari Nazaret ke Betlehem. Mereka tunduk pada struktur politik zamannya. Semua itu terjadi dalam ruang dan waktu yang bisa ditelusuri.

 

Tanpa Google atau media sosial, siapa pun pada masa itu dapat memeriksa catatan pendaftaran penduduk. Injil bukanlah filsafat, ide abstrak, atau sekadar ajaran moral. Injil adalah kabar tentang peristiwa nyata—Allah yang bekerja di dalam sejarah manusia. Anak yang ada dalam kandungan Maria sungguh akan lahir di kota Daud, sesuai janji Allah kepada nenek moyang-Nya.

 

Yesus tidak datang dalam ruang hampa. Ia lahir di tengah sejarah umat-Nya, sebagai penggenapan janji, bukan sebagai ide baru. Bahkan para sejarawan awal—baik Romawi maupun Yahudi—mengakui bahwa Yesus sungguh hidup dan disalibkan. Injil tidak memanggil kita untuk beriman secara buta atau melompat ke dalam kegelapan. Sebaliknya, ia mengundang kita untuk melangkah masuk ke dalam terang kebenaran yang sejati. Allah sungguh menjadi manusia. Ia sungguh hidup, mati, bangkit, dan naik ke surga. Semua ini bukan sekadar cerita rohani, melainkan fondasi keselamatan kita.

 

Dan justru di dalam kepastian itulah kita menemukan pengharapan. Jika apa yang terjadi “pada waktu itu” sungguh nyata, maka kasih karunia Allah juga sungguh nyata bagi kita hari ini. Dari kepastian Injil itu mengalir damai sejahtera, sukacita, dan tujuan hidup—bukan karena perasaan kita stabil, tetapi karena karya Allah telah selesai. Keselamatan kita tidak berdiri di atas asumsi, melainkan di atas peristiwa nyata dalam sejarah yang dikerjakan Allah sendiri.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 1:1-4 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 12-13; Lukas 21:1-19