PEMBERI HUKUM DAN KEBEBASAN

Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Keluaran 20:1-2

 

Untuk membaca dan memahami Sepuluh Perintah Allah dengan benar, kita harus mengerti apa tujuan mereka dan apa yang bukan tujuannya. Kunci pemahamannya ada di awalnya: "Akulah TUHAN, Allahmu." Sebelum memberikan perintah-perintah-Nya, Allah mengingatkan siapa Dia. Ini berarti bahwa perintah-Nya berakar pada siapa Dia sebagai Tuhan. Dalam Mazmur 100:3 tertulis: "Ketahuilah bahwa TUHAN itu Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita." Karena Dialah yang menciptakan kita, Dia berhak memberi perintah kepada kita. Walaupun dunia mencoba menolak otoritas-Nya, Allah tetaplah Penguasa atas hidup kita.

Ketika kita mengingat siapa yang memberikan hukum ini, kita bisa memahami tujuan Sepuluh Perintah Allah dan apa yang bukan tujuannya.

  1. Sepuluh Perintah Allah bukan sekadar daftar aturan yang membatasi kebebasan kita. Allah bukanlah Pribadi yang ingin membuat hidup kita sulit. Justru, Sepuluh Perintah Allah adalah panduan menuju kebebasan dan sukacita. Perintah-perintah ini menunjukkan bagaimana hidup yang terbaik sesuai dengan rancangan Allah.
  2. Sepuluh Perintah Allah bukan jalan untuk mendapatkan keselamatan. Kita tidak bisa menaati hukum ini agar Allah menerima kita. Tidak ada jalan seperti itu! Allah terlebih dahulu membebaskan umat-Nya—dari perbudakan di Mesir dan dari dosa melalui salib—baru kemudian Dia memanggil kita untuk taat. Jadi, kita menaati-Nya bukan supaya diselamatkan, tetapi karena kita sudah diselamatkan. Sepuluh Perintah Allah seperti cermin yang menunjukkan keberdosaan kita dan kebutuhan kita akan Juruselamat.
  3. Sepuluh Perintah Allah tetap berlaku meskipun Yesus telah datang. Ketika Yesus mengatakan bahwa hukum yang terbesar adalah mengasihi Allah dan sesama (Markus 12:28-31), Dia sebenarnya sedang meringkas Sepuluh Perintah Allah. Empat perintah pertama mengajarkan kita bagaimana mengasihi Allah, sedangkan enam perintah terakhir menunjukkan bagaimana kita bisa mengasihi sesama.

Setelah memahami ini, kita bisa membaca Sepuluh Perintah Allah dengan benar. Kita harus melihat dosa kita yang dinyatakan melalui hukum ini dan bertobat serta percaya kepada Yesus—satu-satunya yang telah memenuhi hukum ini secara sempurna dan menawarkan diri-Nya sebagai Juruselamat kita. Hanya Yesus yang bisa menuliskan hukum ini, bukan hanya di dalam pikiran kita, tetapi juga di dalam hati kita. Ketika kita menyerahkan hidup kepada-Nya, kita akan menemukan sukacita dan kebebasan sejati.

 

Refleksi

Bacalah Keluaran 20:1-17 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

 

Bacaan Alkitab setahun: Keluaran 21–22; 2 Tesalonika 1

Truth For Life – Alistair Beg