FORMALISME AGAMA
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Yohanes 9:13
Tragedi terbesar dalam Yohanes 9 bukanlah bahwa ada seorang yang buta sejak lahir hingga akhirnya bertemu Yesus, tetapi bahwa sekelompok orang tetap buta secara rohani meskipun mereka telah melihat pekerjaan Yesus secara langsung.
Kesembuhan pria buta sejak lahir itu menghebohkan masyarakat sekitarnya. Mungkin selama ini ia hanya dianggap bagian dari pemandangan sehari-hari, sehingga mudah diabaikan. Namun, tiba-tiba segalanya berubah—sekarang ia bisa melihat dengan jelas dan tidak lagi mengemis (Yohanes 9:8-10).
Karena bingung dengan kejadian ini, orang-orang membawa pria yang sudah sembuh itu kepada pemimpin agama, yaitu orang-orang Farisi, dengan harapan mereka bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, yang terjadi bukanlah percakapan biasa, melainkan interogasi. Bukannya bersukacita atas kesembuhannya, para pemimpin agama malah mempertanyakan kesaksiannya.
Alasan utama orang-orang Farisi marah, setidaknya di permukaan, adalah karena kesembuhan itu terjadi pada hari Sabat (Yohanes 9:14-16). Mereka tidak bisa bersukacita atas mukjizat tersebut karena mereka terjebak dalam aturan agama yang kaku. Mereka begitu bangga dengan sistem dan tradisi keagamaan mereka, tetapi justru hal itulah yang menghalangi mereka untuk percaya kepada Yesus. Mereka sibuk memastikan segala sesuatu sesuai aturan, sehingga mereka gagal mengenali pekerjaan Tuhan yang ada tepat di depan mata mereka.
Formalisme agama tidak bisa menerima perubahan besar yang Yesus bawa ketika Ia mengubahkan seseorang secara total. Orang yang terjebak dalam formalitas agama tidak mau mengakui bahwa mereka sendiri membutuhkan perubahan. Mereka berpikir bahwa kehidupan beragama cukup dengan menjalankan aturan dan menjaga penampilan luar. Namun, tidak ada yang lebih menantang bagi mereka selain bertemu dengan seseorang yang benar-benar mengalami keselamatan dalam Yesus.
Reaksi orang Farisi terhadap kesembuhan pria buta ini mengajarkan kita untuk berhati-hati terhadap bahaya formalitas agama. Jika kita hanya berpegang pada aturan agama tanpa benar-benar mengenal Yesus, kita bisa saja menjadi seperti mereka—melihat tetapi tetap buta.
Apakah mata Anda sudah terbuka untuk melihat keselamatan yang hanya ada dalam Yesus? Ataukah Anda masih terjebak dalam kesibukan menjalankan aturan agama sehingga lupa menikmati anugerah-Nya yang luar biasa? Apakah Anda merasa terbebani oleh tuntutan agama atau justru bersukacita dalam pekerjaan Tuhan yang sering kali mengejutkan? Pandanglah Yesus sebagai satu-satunya sumber keselamatan. Jangan batasi Dia dengan asumsi dan ekspektasi Anda, maka Anda akan menemukan sukacita, perubahan hidup, dan kebebasan dalam Injil yang tidak bisa diberikan oleh sekadar ketaatan pada aturan agama.
Refleksi
Bacalah Filipi 3:1-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
Bacaan Alkitab setahun: Keluaran 19–20; 1 Tesalonika 5
Truth For Life – Alistair Beg