KEHIDUPAN SEBAGAI SEORANG MURID KRISTUS
LUKAS 14-15

 

Apakah Anda sudah memahami dengan jelas apa artinya menjadi murid Tuhan Yesus Kristus?

 

Segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk dicatat dan dipelihara dalam Alkitab bagi kita selalu memiliki penerapan langsung terhadap identitas kita sebagai anak-anak Allah, kehidupan yang Ia panggil untuk kita jalani, serta pergumulan kita sehari-hari melawan dosa dan pencobaan. Karena itu, ketika membaca Alkitab, jangan terburu-buru melewatkan suatu bagian hanya karena kita merasa bagian tersebut tidak berkaitan dengan keadaan yang sedang kita hadapi. Allah adalah Bapa yang baik dan penuh hikmat. Dia mengetahui dengan tepat apa yang sungguh kita butuhkan, bahkan ketika kita sendiri tidak menyadarinya. Melalui firman-Nya, Allah telah menyediakan segala sesuatu yang perlu kita ketahui, pahami, dan percayai agar kita dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Lukas 14:25–33 adalah salah satu contoh yang menunjukkan hikmat Allah sebagai seorang Bapa: “Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

 

Yesus ingin orang banyak itu memahami bahwa tidak semua orang yang telah mendengar Injil adalah murid yang sejati. Sebagian orang mengikuti Yesus karena tertarik pada hal-hal rohani atau sekadar ingin tahu. Sebagian lainnya mungkin terpikat oleh apa yang mereka lihat dan dengar sehingga mereka merasa kagum kepada-Nya. Namun, tertarik kepada Yesus dan mengagumi-Nya tidaklah sama dengan sungguh-sungguh menjadi murid-Nya.

 

Karena itulah, Yesus meluruskan pemahaman mereka dengan menyatakan tiga hal penting tentang seorang murid sejati:

  1. Seorang murid Yesus mengasihi-Nya lebih daripada siapa pun dalam hidupnya.
  2. Seorang murid bersedia berkorban dan menanggung penderitaan demi mengikut Yesus.
  3. Seorang murid bersedia melepaskan segala sesuatu demi mengikut Yesus.

 

Namun, kita perlu menyadari satu hal penting: tidak satu pun dari semua ini muncul secara alami dari hati kita yang berdosa. Pada dasarnya, kita lebih suka mengutamakan diri sendiri, mempertahankan kenyamanan, dan menggenggam erat apa yang kita anggap berharga. Hanya oleh anugerah Allah, hati kita yang berdosa dapat diubahkan sehingga kita rela meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Kristus.

 

Kabar baiknya, Yesus yang memanggil kita untuk memikul salib adalah Yesus yang terlebih dahulu menyerahkan diri-Nya di kayu salib demi menyelamatkan kita. Dia bukan hanya memanggil kita untuk mengikut-Nya, tetapi melalui anugerah-Nya, Dia juga memampukan kita untuk hidup sebagai murid-Nya. Karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita, kita dimampukan untuk menempatkan Dia di atas segalanya.

 

Kiranya Tuhan terus melimpahkan anugerah-Nya kepada kita, sehingga kita bukan sekadar menjadi orang yang mengenal dan mengagumi Yesus, melainkan sungguh-sungguh hidup sebagai murid yang mengasihi, memercayai, dan mengikuti-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Roma 12:1-2 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 14-15