PERINGATAN ALLAH UNTUK MENJAGA KITA
YEHEZKIEL 5–8
Peringatan keras dalam Alkitab bukan hanya ditujukan kepada orang-orang pada zaman dahulu. Peringatan itu juga merupakan alat kasih karunia Allah untuk menjaga kita hari ini.
Rasul Paulus menyatakan bahwa segala tulisan dalam Kitab Suci bermanfaat (2 Tim. 3:16). Ini berarti tidak ada bagian dari firman Tuhan yang sia-sia atau tidak diperlukan. Segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk dituliskan dan dipelihara bagi kita dicatat karena memiliki manfaat rohani bagi kehidupan kita. Karena itu, tidak ada bagian Alkitab yang seharusnya kita baca dengan terburu-buru atau kita lewati begitu saja. Setiap bagian ada karena Tuhan kita yang penuh hikmat dan kasih karunia mengetahui bahwa kita akan memperoleh manfaat darinya.
Bukan kita yang menentukan bagian mana yang berguna. Tuhan sudah menentukan semuanya bagi kita. Karena itu, ketika kita membaca dan mempelajari Kitab Suci, kita seharusnya selalu bertanya: “Apa yang Allah sedang tunjukkan kepada saya melalui firman ini? Apa yang firman Tuhan ungkapkan tentang Allah? Apa yang firman ini ungkapkan tentang diri saya? Apa yang firman ini ajarkan tentang dosa? Apa yang firman ini katakan tentang kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa? Apa yang firman ini nyatakan tentang kasih karunia Allah? Dan bagaimana semua ini menolong saya melihat Kristus dan pengharapan yang saya miliki di dalam-Nya?”
Lalu, mengapa peringatan yang begitu mengerikan dalam kitab Yehezkiel 5-8 ini dicatat dan dipelihara bagi kita? “Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: "Hai anak manusia, tujukanlah mukamu ke gunung-gunung Israel dan bernubuatlah melawan mereka! Katakanlah: Hai gunung-gunung Israel, dengarkanlah firman Tuhan ALLAH! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada gunung-gunung dan bukit-bukit, kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah: Sungguh, Aku akan mendatangkan perang atasmu dan Aku akan membinasakan bukit-bukit pengorbananmu. Mezbah-mezbahmu akan menjadi sunyi sepi dan pedupaan-pedupaanmu akan dirusak; dan Aku akan merebahkan orang-orangmu yang terbunuh di hadapan berhala-berhalamu. Aku akan mencampakkan mayat-mayat orang Israel di hadapan berhala-berhala mereka dan menghamburkan tulang-tulangmu keliling mezbah-mezbahmu. Di mana saja kamu diam, kota-kotamu akan menjadi reruntuhan dan bukit-bukit pengorbananmu akan menjadi sunyi sepi, supaya mezbah-mezbahmu dihancurkan dan ditinggalkan sunyi sepi, berhala-berhalamu diremukkan dan ditiadakan, pedupaan-pedupaanmu diluluhkan dan buatan-buatan tanganmu dihapuskan. Dan orang-orangmu yang terbunuh akan berebahan di tengah-tengahmu dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.” (Yeh. 6:1–7).
Pertama, bagian ini menyatakan kepada kita kekudusan Allah yang sempurna dan mutlak. Dalam kesempurnaan kekudusan-Nya, Dia tidak dapat dan tidak akan membiarkan dosa umat-Nya begitu saja. Kedua, bagian ini menyatakan kasih-Nya. Karena Dia telah memilih umat ini menjadi milik-Nya dan melimpahkan kasih-Nya kepada mereka, Dia tidak akan membiarkan mereka memberikan hati mereka kepada yang lain. Ketiga, ayat-ayat ini menyatakan kasih karunia Allah. Setiap peringatan merupakan undangan untuk mengakui dosa kita dan berbalik darinya.
Namun kita perlu berhati-hati. Ketika membaca bagian seperti ini, kita jangan sampai berpikir, “Kalau begitu saya harus berusaha lebih keras supaya Allah menerima saya.” Masalah terbesar kita bukan sekadar bahwa kita melakukan beberapa kesalahan. Masalahnya adalah hati kita memang cenderung berpaling dari Allah. Kita tidak hanya membutuhkan perbaikan perilaku, melainkan kita membutuhkan hati yang diperbarui. Dan kita tidak mampu melakukan itu dengan kekuatan sendiri. Karena itu, pengharapan kita bukan terletak pada kemampuan kita untuk menjadi cukup baik. Pengharapan kita terletak pada Yesus Kristus.
Kristus datang untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Ia menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Ia mati karena dosa kita dan bangkit supaya kita memperoleh kehidupan yang baru. Di dalam Kristus, kita tidak lagi harus melarikan diri dari teguran Allah. Kita dapat datang kepada-Nya dengan jujur, mengakui dosa kita, dan bertobat karena kita tahu bahwa ada pengampunan bagi mereka yang berada di dalam Kristus.
Kasih karunia tidak mengatakan, “Dosa tidak masalah.” Sebaliknya, kasih karunia menunjukkan kepada kita betapa seriusnya dosa, lalu menawarkan pengampunan dan kuasa untuk meninggalkan dosa itu. Maka ketika firman Tuhan menegur kita, jangan keraskan hati. Jangan segera mencari alasan. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Berhentilah dan tanyakan: “Apa yang sedang mengambil tempat Allah di dalam hati saya? Apa yang membuat saya merasa berharga? Apa yang paling saya percayai untuk memberikan kepuasan?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dapat menunjukkan kepada kita apa yang sedang menjadi “allah” dalam hati kita. Dan ketika kita menemukan dosa itu, jangan lari dari Kristus, berlarilah kepada Kristus. Sebab peringatan Allah diberikan bukan untuk menghancurkan umat-Nya, tetapi untuk membawa mereka kembali kepada-Nya.
Maka jangan melewati peringatan Tuhan begitu saja. Dengarkan. Akui dosa. Bertobat. Dan pandanglah kepada Kristus. Kiranya ketika firman Tuhan menegur kita, hati kita tidak menjadi keras, tetapi semakin lembut kepada-Nya. Dan kiranya kita terus datang kepada Kristus, sebab hanya di dalam Dia ada kasih karunia yang menyelamatkan, mengampuni, dan memulihkan.
Refleksi
Bacalah 2 Timotius 3:10–17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 5-8