BAHAYA MENGECILKAN DOSA
2 RAJA-RAJA 15–17

 

Sangat berbahaya jika kita meremehkan atau melupakan betapa serius dan jahatnya dosa.

 

Sering kali kita mudah untuk mengecilkan, menyangkal, atau melupakan kejahatan dosa yang masih ada di dalam diri kita, dan yang akan terus ada sampai karya penebusan Allah digenapi sepenuhnya dan kita bersama Dia untuk selamanya. Memang, Allah telah memberikan kepada anak-anak-Nya sarana anugerah: Roh-Nya, firman-Nya, dan gereja-Nya. Namun, kita tetap tidak boleh meremehkan keberadaan dan kuasa dosa yang masih tersisa.

 

Perhatikan beberapa kenyataan ini:

  • Kita masih bisa mengikuti ke mana hawa nafsu menuntun kita.
  • Kita masih bisa membiarkan amarah mengendalikan tindakan dan perkataan kita.
  • Kita masih dapat dikuasai kepahitan atau iri hati.
  • Kita bukan hanya sering gagal mengasihi sesama, tetapi juga bisa menyimpan sikap merendahkan orang lain.
  • Kita sering lebih mengasihi kehendak kita sendiri daripada kehendak Tuhan.
  • Bahkan, sering kali kita tampak lebih mengasihi dunia daripada Tuhan kita.

 

Daftar ini bisa terus berlanjut. Jelas bahwa pergumulan kita melawan dosa belum berakhir. Namun ada satu hal lain yang juga perlu disadari: dosa tidak selalu tampak sebagai dosa bagi kita. Apa yang Allah katakan jahat, kadang justru terlihat baik di mata kita. Kita bisa menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa kita bisa berbuat dosa dan semuanya akan tetap baik-baik saja pada akhirnya.

 

Padahal, dosa adalah pendusta. Ia tidak pernah menepati janjinya dan tidak pernah menghasilkan kebaikan, baik di dalam kita maupun melalui kita. Dosa membisikkan janji kehidupan, tetapi ujungnya hanya membawa kepada kematian. Dosa jauh lebih dalam dan lebih jahat daripada yang sering kita bayangkan. Salah satu contohnya terdapat dalam 2 Raja-raja 16:1–4: “Dalam tahun ketujuh belas zaman Pekah bin Remalya, Ahas e  anak Yotam raja Yehuda menjadi raja. Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahnya, seperti Daud, bapa leluhurnya, tetapi ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.”

 

Ketika kita membaca praktik penyembahan berhala yang begitu keji, bahkan sampai mengorbankan anak, kita perlu ingat bahwa ini bukan tentang bangsa asing yang tidak mengenal Allah. Ini adalah Yehuda, umat pilihan Allah, keturunan Daud, dari mana Mesias akan datang. Mereka adalah umat Allah yang perlahan-lahan, langkah demi langkah, menjauh dari Tuhan mereka, hingga akhirnya tersesat begitu jauh sampai melakukan hal yang sangat mengerikan.

 

Bagian ini seakan berteriak kepada kita tentang mengapa salib Yesus Kristus begitu diperlukan. Anugerah harus mengubah segalanya. Hukuman atas dosa harus dibayar, dan kuasa dosa harus dikalahkan. Hari ini, ingatlah kembali betapa seriusnya dosa itu, dan bersukacitalah dalam kemenangan kekal dari anugerah Allah di dalam Yesus Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 7:30–34 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 15-17