YESUS MENGGENAPI HUKUM ALLAH
LUKAS 16-18

 

Hukum Allah dan anugerah-Nya tidak bertentangan; keduanya merupakan bagian dari karya Allah dalam kehidupan kita.

 

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.” (Luk. 16:17). Betapa jelas dan tegas pernyataan Yesus ini! Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Allah, melainkan untuk menggenapinya dengan sempurna. Seluruh hukum tentang upacara keagamaan dan persembahan korban telah digenapi oleh Kristus ketika Ia menyerahkan diri-Nya di kayu salib sebagai Anak Domba Allah yang menjadi korban terakhir dan sempurna. Melalui pengorbanan-Nya, Kristus sepenuhnya memenuhi tuntutan Allah bagi kita.

 

Yesus juga menggenapi seluruh tuntutan moral dalam hukum Allah. Sebagai Pengganti kita, Ia menjalani kehidupan yang sepenuhnya benar dan taat kepada Allah, dalam segala hal dan sepanjang hidup-Nya. Ia memenuhi setiap tuntutan hukum Allah supaya melalui Dia, kita yang percaya dapat dibenarkan di hadapan Allah.

 

Setiap pikiran, keinginan, keputusan, perkataan, dan tindakan kita yang berdosa menunjukkan betapa kita membutuhkan Kristus. Kita tidak mungkin mampu menjalani kehidupan yang benar secara sempurna dengan kekuatan sendiri. Karena itulah, Anak Manusia datang untuk menjalani kehidupan yang tidak sanggup kita jalani dan menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Ia hidup dalam ketaatan yang sempurna bagi kita dan mati menggantikan kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya dibebaskan dari kutuk hukum Taurat.

 

Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus menegaskan bahwa Ia tidak datang untuk menghapuskan hukum Allah. Berbeda dari anggapan sebagian orang Kristen, hukum Allah sebenarnya merupakan salah satu pemberian anugerah-Nya. Perhatikan saat hukum Allah pertama kali diberikan. Allah memberikan hukum-Nya kepada bangsa Israel setelah Ia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Hukum Taurat bukanlah syarat yang harus dipenuhi bangsa Israel supaya Allah mau mengasihi mereka. Sebaliknya, Allah terlebih dahulu memilih, mengasihi, dan menyelamatkan mereka.

 

Selama empat ratus tahun, bangsa Israel hidup sebagai budak di tengah bangsa yang menyembah ilah-ilah lain. Mereka belum memahami bagaimana seharusnya hidup dengan cara yang berkenan kepada Allah yang telah membebaskan mereka. Karena itulah, Allah memberikan hukum-Nya untuk mengajar dan menuntun mereka menjalani kehidupan sebagai umat-Nya. Pemberian hukum Taurat kepada bangsa Israel merupakan tanda kasih Allah sekaligus sarana anugerah-Nya.

 

Demikian pula dalam kehidupan kita hari ini, hukum Allah menjadi salah satu sarana yang Tuhan gunakan untuk menyatakan anugerah-Nya. Allah memakai hukum-Nya untuk menyatakan dosa dan menyadarkan kita akan kesalahan kita. Ketika kita bercermin pada hukum Allah yang berfungsi sebagai cermin moral, kita seharusnya melihat diri kita sebagaimana adanya dan berseru memohon anugerah yang mengampuni serta mengubahkan kita.

 

Hukum Allah juga menjadi pedoman bagi kehidupan kita. Setiap perintah-Nya mencerminkan kekudusan-Nya dan menunjukkan seperti apa kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Ketika kita belajar tunduk kepada standar kekudusan Allah, kita semakin menyadari bahwa kita membutuhkan pertolongan dan kuasa anugerah-Nya untuk bertumbuh dalam kekudusan.

 

Namun, sekalipun hukum Allah merupakan pemberian yang baik, kita perlu memahami keterbatasannya. Hukum Allah tidak memiliki kuasa untuk membuat kita layak diterima oleh Allah. Hukum itu juga tidak sanggup mengubah hati kita dengan kekuatannya sendiri. Itulah sebabnya kita membutuhkan Yesus Kristus.

 

Kiranya kita bersyukur atas hukum Allah, tetapi terlebih lagi bersukacita atas anugerah-Nya di dalam Kristus yaitu anugerah yang menyelamatkan, mengampuni, mengubahkan, dan membebaskan kita.

 

Refleksi
Bacalah Roma 10:5-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Lukas 16-18