PENGHARAPAN KITA DALAM KEHADIRAN TUHAN
YEHEZKIEL 9–12

 

Pengharapan dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang ditemukan dalam kehadiran Tuhan, yang diam di dalam dan di tengah-tengah umat-Nya.

 

Yehezkiel 10 adalah salah satu bagian yang paling menyedihkan dalam Perjanjian Lama. Jika bagian ini tidak membuat hati kita gentar, mungkin kita belum memahami betapa seriusnya hubungan antara kekudusan Allah dan dosa umat-Nya.

 

Mari kita melihat latar belakang dari peristiwa ini.

 

Allah telah memilih bangsa Israel untuk menjadi milik-Nya. Dia membebaskan mereka dari Mesir dan memberikan hukum-Nya kepada mereka. Dia memelihara dan melindungi mereka selama perjalanan di padang gurun. Dia juga memberikan kepada mereka tanah yang telah dijanjikan-Nya. Semua tindakan Allah yang luar biasa ini menunjukkan Allah yang berkenan menyatakan kuasa-Nya bagi umat-Nya. Semuanya memperlihatkan bagaimana kasih dan kasih karunia-Nya bekerja bagi mereka. Namun, Allah telah menjanjikan sesuatu yang bahkan lebih luar biasa bagi umat-Nya. Dia berjanji untuk diam bersama umat-Nya (Kel. 29:45).

 

Kehadiran-Nya turun dan tinggal di tengah-tengah umat pilihan-Nya. Hal ini begitu ajaib dan melampaui pemahaman kita sehingga hampir tidak mungkin kita memahaminya sepenuhnya. Sang Pencipta, Penguasa, dan Raja di atas segala raja menyatakan kehadiran-Nya secara nyata di tengah-tengah umat-Nya.

 

Lalu, apa yang membedakan bangsa Israel dari bangsa-bangsa lain di dunia? Apakah pemimpin-pemimpin mereka? Kekuatan militer mereka? Sejarah mereka? Budaya mereka? Atau tanah yang Tuhan berikan kepada mereka? Bukan. Yang membedakan mereka adalah kehadiran Tuhan. Mereka menjadi umat yang istimewa karena Allah berdiam bersama mereka.

 

Namun kemudian tibalah saat yang sangat menyedihkan ketika kehadiran Tuhan meninggalkan Bait Suci. Apa yang mungkin lebih buruk daripada itu? Karena pemberontakan, dosa, dan penyembahan berhala umat-Nya, kehadiran Allah tidak lagi berdiam di tengah-tengah mereka. Ini merupakan salah satu momen paling menyedihkan dalam sejarah umat Allah. Bayangkan kehilangan itu. Mereka masih memiliki kota. Mereka masih memiliki bangunan. Mereka masih memiliki sejarah. Tetapi mereka kehilangan hal yang paling penting yaitu kehadiran Allah. Ini mengingatkan kita bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran terhadap sejumlah aturan. Dosa membawa kita menjauh dari Allah. 

 

Namun, peristiwa ini juga menunjukkan betapa kita membutuhkan pribadi dan karya Yesus. Hanya melalui kehidupan Yesus yang benar, pengorbanan kematian-Nya yang berkenan kepada Allah, dan kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan, Allah kembali berdiam di dalam umat-Nya. Mereka yang ada di dalam Kristus menjadi Bait Suci yang sejati, tempat Allah Yang Mahakuasa berdiam. Melalui Roh-Nya, Allah sekarang tinggal dalam kemuliaan dan kasih karunia-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Dan semuanya ini terjadi karena kasih karunia.

 

Kita dipisahkan menjadi milik-Nya bukan karena kita memiliki kelayakan atau kekudusan dari diri kita sendiri, tetapi karena melalui karya ajaib dari kasih karunia Allah yang berdaulat, Dia memilih kita menjadi tempat kediaman-Nya, ketika Kristus mencurahkan Roh-Nya ke dalam kita. Artinya, bukan kita yang berhasil menemukan jalan kembali kepada Allah, justru Allah sendiri yang datang mencari dan menyelamatkan kita. 

 

Sebab pada akhirnya, pengharapan terbesar kita bukanlah bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan kita. Pengharapan terbesar kita adalah bahwa Allah yang hadir bersama kita hari ini adalah Allah yang akan tinggal bersama kita untuk selama-lamanya. 

 

Refleksi
Bacalah 1 Korintus 6:19–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 9-12