TANGGAPAN KEPADA SANG RAJA
Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi. – Matius 2:4-5
Ketika Yesus dilahirkan—tujuh ratus tahun setelah nabi Mikha menubuatkan tempat kelahiran-Nya—kedatangan-Nya disambut dengan beragam respons. Respons-respons itu sama seperti yang kita lihat hingga hari ini: permusuhan, ketidakpedulian, atau iman.
Raja Herodes adalah gambaran paling jelas dari permusuhan terhadap Yesus. Ia berdiri mewakili setiap orang yang berkata dalam hati, “Aku tidak keberatan dengan agama selama agama itu tidak mengganggu hidupku.” Herodes tidak menolak agama, ia menolak Yesus sebagai Raja. Ia dapat menerima pemimpin rohani selama pemimpin itu tidak menantang klaimnya atas hidupnya. Karena itulah Herodes berusaha menyingkirkan Yesus (Mat. 2:16–18). Hingga hari ini, banyak orang masih memusuhi Kristus, bukan karena tidak mengenal-Nya, tetapi karena tidak mau menyerahkan kendali hidup kepada-Nya.
Para pemimpin agama di Yerusalem menunjukkan respons yang berbeda: ketidakpedulian. Ketika Herodes bertanya tentang kelahiran Mesias, mereka mampu menjawab dengan sangat tepat. Mereka tahu nubuat Mikha, mereka tahu Betlehem adalah tempat kelahiran Sang Raja. Namun mereka tidak peduli. Pengetahuan mereka tidak berujung pada penyembahan. Mereka tidak mau berjalan sejauh enam mil untuk menemui Raja yang telah lama dinantikan. Mereka terlalu sibuk dengan agama sampai kehilangan relasi dengan Sang Juruselamat.
Berbeda dengan mereka, orang-orang majus—para ahli perbintangan dari bangsa asing—melihat sebuah bintang dan merespons dengan iman. Mereka meninggalkan kenyamanan, menempuh perjalanan panjang, dan sujud menyembah seorang Anak. Siapa yang menggerakkan hati mereka untuk menyembah? Bukan Herodes, bukan para imam, melainkan kuasa Allah sendiri. Dan mereka sangat bersukacita (Mat. 2:10).
Di sinilah garis pemisah yang sejati di antara manusia. Bukan suku, kecerdasan, atau status sosial, melainkan iman dan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan dapat muncul dalam bentuk permusuhan, tetapi juga dalam bentuk yang lebih halus: ketidakpedulian. Dunia Barat sering menampilkan penolakan yang keras terhadap Allah, tetapi orang-orang “religius” pun berada dalam bahaya yang sama—bahaya hidup tanpa respons yang sejati kepada Kristus.
Kita bisa mendengar kisah Natal berkali-kali, mengetahui Perjanjian Lama, rajin ke gereja, namun tetap tidak tergerak. Ketidakpedulian kepada Yesus adalah tanda bahwa hati kita belum sungguh tunduk kepada-Nya. Di mana pun kita berada, jika kita tidak hidup dengan Yesus sebagai Raja dalam hidup ini, kita hidup di luar Kerajaan-Nya—dan itu berarti kematian rohani.
Jika Anda memilih membiarkan Yesus pergi—baik melalui permusuhan maupun ketidakpedulian—Ia akan membiarkan Anda sendirian untuk selamanya. Namun Injil memberi pengharapan: Yesus datang justru untuk orang berdosa yang memusuhi dan mengabaikan-Nya. Pandanglah Dia yang mati bagi kita ketika kita masih tidak peduli. Biarlah kasih-Nya melembutkan hatimu, supaya engkau merespons Dia dengan iman yang sejati, sukacita yang penuh, ketaatan yang rendah hati—hari ini dan setiap hari.
Refleksi
Bacalah Matius 2:1-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 6-7; Lukas 22:21-46