PENEMUAN TERBESAR
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. – Matius 2:11
Ketika orang-orang Majus datang ke Yerusalem untuk mencari Raja orang Yahudi, mereka kemungkinan telah menempuh perjalanan sekitar 1.300 kilometer. Namun, mereka segera menyadari bahwa mereka telah tiba di tempat yang keliru. Secara logis, mereka mendatangi istana raja di ibu kota, sebab menurut pemikiran manusia, di sanalah seorang raja seharusnya berada. Akan tetapi, pencarian mereka tidak cukup dituntun oleh logika; mereka membutuhkan tuntunan dari Allah sendiri.
Ketika Raja Herodes mendengar pertanyaan mereka tentang kelahiran Raja yang baru, ia memanggil para imam kepala dan ahli Taurat. Dari Kitab Suci, mereka mengetahui bahwa Mesias harus lahir di Betlehem di tanah Yudea, seperti yang telah dinubuatkan para nabi (bdk. Matius 2:5). Ironisnya, orang-orang yang paling menguasai Kitab Suci justru tidak bergerak mencari Sang Mesias. Pengetahuan rohani tanpa hati yang mencari Allah tidak akan pernah membawa seseorang kepada Kristus.
Allah dapat memakai berbagai cara yang luar biasa untuk menarik manusia kepada-Nya. Namun, pada akhirnya Allah selalu membawa manusia kembali kepada Firman-Nya, supaya melalui Kitab Suci mereka berjumpa dengan Firman yang hidup, yaitu Yesus Kristus. Tidak ada jalan kepada Allah selain melalui Kristus, Anak Allah, yang dinyatakan melalui Firman.
Setelah dipimpin oleh Kitab Suci sampai kepada Yesus, orang-orang Majus membuat penemuan terbesar dalam hidup mereka: menyembah Kristus adalah satu-satunya respons yang benar. Ketika mereka akhirnya bertemu dengan Yesus, mereka sujud menyembah dan mempersembahkan persembahan mereka. Mereka tidak datang dengan kesombongan pencari kebenaran, tetapi dengan kerendahan hati penyembah.
Demikian pula dengan kita. Apa pun yang Allah pakai untuk menuntun kita—pertanyaan hidup, pergumulan, pencarian intelektual—semuanya dimaksudkan untuk membawa kita kepada Yesus. Ketika mata kita dibukakan untuk melihat kemuliaan Raja segala raja, satu-satunya respons yang layak adalah sujud dalam kerendahan hati, kekaguman, dan rasa gentar.
Dalam pencarian akan kebenaran, sudahkah kita menyadari bahwa Alkitab adalah penuntun yang paling dapat dipercaya? Dan setelah mengenal Kristus, sudahkah kita menyadari bahwa sekadar mengetahui tentang Yesus tidaklah cukup? Respons yang benar adalah penyembahan: menyerahkan yang terbaik dari hidup kita—waktu, harta, tenaga, dan hati.
Kita sungguh memahami makna Natal ketika kita menyadari bahwa Allah hidup dan bekerja, ketika kita berjumpa dengan Yesus melalui Firman-Nya, dan ketika kita setiap hari menyerahkan hidup kita sebagai persembahan bagi-Nya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 29 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 1-4; Lukas 22:47-71