JANGAN MEMBUAT PATUNG ATAU GAMBAR APA PUN UNTUK DISEMBAH

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Keluaran 20:4

 

Jika perintah pertama—“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3)—berbicara tentang siapa yang harus kita sembah, maka perintah kedua ini berbicara tentang bagaimana cara kita menyembah-Nya. Perintah ini mengajarkan bahwa tidak cukup hanya menyembah Allah yang benar, tetapi kita juga harus menyembah-Nya dengan cara yang benar.

Makna yang jelas dari perintah ini adalah bahwa Allah tidak boleh disembah melalui gambar, patung, atau lambang apa pun. Mengapa? Karena Allah adalah Roh yang tidak terbatas dan begitu mulia. Tidak ada gambaran fisik apa pun yang bisa benar-benar mewakili keagungan-Nya. Masalah dengan patung atau gambar bukan sekadar apakah bentuknya bagus atau tidak, tetapi karena semua bentuk visual itu pasti akan merusak pemahaman kita tentang siapa Allah sebenarnya. Lambat laun, manusia cenderung lebih fokus pada gambaran itu daripada kepada Allah yang sejati.

Namun, perintah ini bukan hanya tentang gambar yang dibuat dengan tangan, tetapi juga tentang gambaran yang ada di dalam pikiran kita. Meskipun kita tidak membuat patung atau gambar secara fisik, sering kali kita membayangkan Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan firman-Nya. Jika kita membentuk konsep tentang Allah yang tidak berasal dari Alkitab, maka kita juga telah melanggar perintah ini.

Ketika Allah memerintahkan pembangunan Bait Suci, Dia menetapkan bahwa Tabut Perjanjian—tempat yang melambangkan kehadiran-Nya—harus diletakkan di ruang Mahakudus (Keluaran 26:34). Apa yang ada di dalam tabut itu? Yang paling penting adalah apa yang tidak ada di dalamnya: tidak ada gambaran atau patung Allah di dalamnya. Sebaliknya, yang ada adalah dua loh batu berisi Sepuluh Perintah Allah. Seolah-olah Allah sedang berkata kepada umat-Nya, Jangan mencari Aku dalam patung atau gambar. Aku tidak ada di sana. Carilah Aku dalam firman-Ku.

Oleh karena itu, kita harus mengikuti cara Allah menyatakan diri-Nya. Jika kita ingin mengenal dan menyembah-Nya, kita harus melakukannya sesuai dengan firman-Nya. Segala upaya untuk memahami Allah dengan cara kita sendiri, di luar apa yang telah Dia wahyukan dalam Alkitab, pasti akan membawa kita pada kesalahan.

Perintah ini bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal kehidupan kita. Sebab, jika seseorang salah dalam menyembah Allah, maka kehidupannya juga akan menyimpang. Segala sesuatu yang membuat kita menyembah Allah dengan cara yang salah akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Betapa tragisnya jika seseorang lebih sibuk dengan patung dan lambang daripada mengenal Yesus, atau lebih fokus pada konsep yang salah tentang Allah daripada memiliki hubungan yang benar dengan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menolak godaan untuk membayangkan Allah sesuai dengan keinginan kita sendiri, dan pastikan kita mengenal-Nya sebagaimana Dia telah menyatakan diri-Nya dalam firman-Nya.

 

Refleksi

Bacalah Yesaya 40:12-25 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

  • Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
  • Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
  • Apa yang bisa saya terapkan hari ini? 

 

Bacaan Alkitab setahun: Keluaran 25–26; 2 Tesalonika 3

Truth For Life – Alistair Beg