TIADA TANDINGAN-NYA
AYUB 1–3
Hanya ada satu Allah, yang tak tertandingi dan memerintah atas segala sesuatu.
Mungkin Anda pernah berada di titik di mana hidup terasa begitu berat. Sejak kecil, hidup Anda mungkin dipenuhi kekecewaan, kesulitan, dan luka. Orang-orang yang seharusnya mengasihi dan menjaga hati Anda justru mengecewakan Anda. Bahkan mungkin Anda juga kecewa terhadap diri sendiri. Relasi yang Anda jalani terasa dingin, penuh ketidakpercayaan, dan perlahan kehilangan kehangatan. Yang tersisa hanyalah usaha untuk bertahan, bukan sukacita untuk saling mengasihi.
Di tengah semua itu, Anda bisa saja jatuh dalam depresi yang begitu dalam hingga melemahkan secara rohani, emosional, bahkan dalam hubungan dengan orang lain. Namun sering kali, akar pergumulan itu bukan hanya karena penderitaan atau masalah yang terlihat di permukaan. Ada pertanyaan yang lebih dalam yang terus menghantui hati: “Apakah Pribadi yang duduk di atas takhta alam semesta benar-benar dapat dipercaya?” Sesungguhnya, tidak ada pertanyaan yang lebih penting dalam hidup selain ini: “Ketika hidup menjadi sulit, apakah saya sungguh dapat mempercayai Allah?”
Sering kali, keraguan muncul karena pemahaman kita tentang Allah tidak sepenuhnya benar. Kita mungkin melihat dunia seolah-olah dikuasai oleh dua kuasa besar yang sama kuat: Allah dan Iblis. Seakan-akan keduanya sedang bertarung untuk menentukan siapa yang akhirnya menang. Jika itu benar, tentu kita akan hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, karena tidak ada jaminan bahwa Allah sungguh memegang kendali penuh.
Namun kitab Ayub menunjukkan sesuatu yang berbeda. Iblis bukanlah tandingan Allah. Ketika Iblis ingin mencobai Ayub, ia harus datang kepada Allah dan meminta izin terlebih dahulu (lihat Ayub 1:6–12). Hal ini menunjukkan bahwa Iblis tidak pernah setara dengan Allah. Allah saja yang berdaulat atas seluruh alam semesta.
Ayub adalah seorang yang kaya dan takut akan Allah. Lalu Iblis datang kepada Allah dan pada dasarnya berkata, “Ayub takut kepada-Mu hanya karena Engkau memberkati dia. Jika semua itu diambil darinya, ia akan meninggalkan-Mu.” Menakjubkan bahwa Allah mengizinkan percakapan ini dicatat bagi kita. Salah satu alasannya adalah supaya kita mengerti dengan jelas bahwa Iblis bukanlah penguasa yang sejajar dengan Allah. Ia tetap berada di bawah otoritas Allah. Di tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita dapat tetap tenang dan percaya kepada Allah karena Ia memerintah dengan kuasa penuh atas setiap keadaan, tempat, dan hubungan dalam hidup kita untuk menggenapi rencana-Nya dan menepati janji-Nya. Takhta itu adalah milik-Nya sepenuhnya. Tidak ada yang dapat menggugat kekuasaan-Nya.
Dan inilah kabar baik Injil bagi setiap orang percaya: Pribadi yang memegang kendali atas alam semesta adalah Allah yang menyatakan kasih-Nya melalui Yesus Kristus. Di kayu salib, kita melihat bahwa Allah bukan hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih. Yesus datang menanggung dosa, penderitaan, dan hukuman kita supaya kita memiliki pengharapan yang teguh di tengah dunia yang gelap. Karena kebangkitan Kristus, kita tahu bahwa tidak ada kuasa dosa, penderitaan, ataupun Iblis yang dapat menggagalkan rencana Allah bagi umat-Nya.
Karena itu, sekalipun Anda hidup di dunia yang penuh dosa dan penderitaan, Anda tetap dapat tenang dan percaya kepada Allah. Tidak ada keadaan, tempat, relasi, ataupun kuasa apa pun yang berada di luar kendali-Nya. Allah tetap bekerja dengan kuasa penuh untuk menggenapi rencana-Nya dan menepati janji-Nya. Tidak ada yang setara dengan Dia. Takhta itu sepenuhnya milik Allah, dan tidak ada kuasa apa pun yang dapat menggoyahkan pemerintahan-Nya. Bagi setiap orang percaya, di mana pun berada, kebenaran ini adalah pengharapan yang sangat indah.
Refleksi
Bacalah Kejadian 22:1-14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 1-3