BERHALA DARI DALAM HATI
YEHEZKIEL 13–15
Bentuk penyembahan berhala yang paling berbahaya secara rohani adalah ketika hati kita menjadikan sesuatu selain Allah sebagai penguasa hidup kita.
Yehezkiel 14 memberikan salah satu penjelasan yang paling jelas dan menolong tentang penyembahan berhala dalam Perjanjian Lama. Pada waktu itu, beberapa tua-tua Israel datang kepada Yehezkiel untuk meminta petunjuk dari Tuhan. Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia: berhala-berhala itu sudah lebih dahulu mereka simpan di dalam hati. Firman Tuhan berkata: "Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya dan menempatkan di hadapan mereka batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan. Apakah Aku mau mereka meminta petunjuk dari pada-Ku?” (Yeh. 14:3).
Mereka datang kepada Tuhan, tetapi hati mereka sebenarnya sudah dikuasai oleh sesuatu yang lain. Ini menunjukkan bahwa seseorang dapat terlihat dekat dengan Tuhan secara lahiriah, tetapi hatinya sebenarnya sedang dikuasai oleh berhala. Kita mungkin tetap datang beribadah. Kita membaca Alkitab. Kita berdoa. Kita melayani. Kita bahkan dapat meminta petunjuk Tuhan. Tetapi di dalam hati, kita mungkin sudah memberikan tempat tertinggi kepada sesuatu selain Allah. Itulah sebabnya penyembahan berhala tidak selalu berbentuk patung atau benda yang kita sembah secara fisik. Berhala adalah apa pun yang kita izinkan untuk menguasai hati kita selain Allah.
Ada setidaknya beberapa hal penting yang perlu kita pahami.
1. Penyembahan berhala yang paling berbahaya adalah berhala di dalam hati.
Berhala di dalam hati adalah apa pun selain Allah yang kita izinkan untuk menguasai hati kita. Hati adalah pusat kendali dari diri kita. Ketika sesuatu selain Allah mengambil alih pusat kendali kehidupan kita, maka kita sedang berjalan menuju kehancuran. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita menyembah patung atau berhala secara fisik. Pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya menguasai hati kita?
2. Ketika sebuah berhala menguasai hati kita, berhala itu akan membentuk cara kita hidup.
Berhala tidak hanya tinggal di dalam pikiran. Ketika sesuatu menguasai hati, sesuatu itu akan memengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, dan menentukan apa yang kita kejar. Itulah sebabnya Yehezkiel memperingatkan tentang “batu sandungan yang menjatuhkannya ke dalam kesalahan” (Yeh. 14:4). Apa pun yang menguasai hati kita selain Allah tidak akan membawa kita ke tempat yang Allah kehendaki.
3. Apa pun yang sedang kita cari dari Allah, hal yang paling diperhatikan-Nya adalah apa yang menguasai hati kita.
Para tua-tua Israel datang kepada Tuhan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Tetapi Tuhan justru ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: hal-hal yang telah menggantikan pemerintahan-Nya di dalam hati mereka. Demikian juga dengan kita. Kita mungkin datang kepada Tuhan dengan banyak permintaan dan pertanyaan. Namun Tuhan melihat lebih dalam daripada apa yang kita minta. Dia melihat hati kita. Karena bisa saja kita mencari pemberian Tuhan sambil menggantikan Tuhan dengan pemberian itu.
4. Allah tidak mau berbagi takhta hati kita.
Allah tidak menginginkan sebagian hati kita sementara bagian lainnya dikuasai oleh berhala. Ia tidak mau menjadi salah satu dari banyak hal penting dalam hidup kita. Allah menuntut hati kita sepenuhnya. Karena itu, penyembahan berhala adalah masalah yang sangat serius. Allah menginginkan kita menyerahkan hati kita kepada-Nya karena hanya Dialah yang layak menjadi Tuhan atas hidup kita.
5. Penyembahan berhala dalam hati menunjukkan mengapa pribadi dan karya Yesus sangat penting.
Jika masalah kita hanya kurang disiplin, mungkin kita cukup membutuhkan nasihat. Tetapi masalah kita jauh lebih dalam. Kita memiliki hati yang cenderung membuat Allah pengganti bagi diri kita sendiri. Kita membutuhkan keselamatan yang tidak dapat kita kerjakan sendiri.
Di sinilah Injil menjadi pengharapan kita. Yesus Kristus datang bukan hanya untuk mengajarkan kita bagaimana hidup lebih baik. Ia datang untuk menyelamatkan penyembah berhala seperti kita. Di kayu salib, Kristus menanggung hukuman atas ketidaksetiaan kita. Ia mati bagi orang-orang yang telah memberikan hati mereka kepada hal-hal lain. Ia bangkit untuk memberikan kehidupan yang baru dan membebaskan kita dari perbudakan dosa. Kita tidak dibebaskan dari berhala karena kita cukup kuat untuk melepaskannya. Kita dibebaskan karena Kristus cukup berkuasa untuk menyelamatkan kita.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya menyembah berhala?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah “Apa yang sedang menggantikan Allah sebagai penguasa hati saya?” Datanglah kepada Kristus. Akui bahwa hati kita telah berpaling. Bertobatlah. Percayalah kepada kasih karunia-Nya. Sebab kasih karunia bukan hanya mengampuni kita. Kasih karunia juga membebaskan kita dari apa yang selama ini memperbudak kita.
Apa pun yang ada di dalam ciptaan dapat menjadi pengganti Allah. Karena itu, mari periksa hati kita. Dan ketika kita menyadarinya, jangan lari dari Allah. Datanglah kepada Yesus, karena Ia telah melakukan bagi kita apa yang tidak sanggup kita lakukan bagi diri kita sendiri. Kebebasan dari penyembahan berhala hanya mungkin melalui kasih karunia Kristus yang menyelamatkan.
Refleksi
Bacalah Kolose 3:5–17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 13-15